Cari
  • PSII Indonesia

Kolaborasi Jaga Stabilitas Harga Minyak

Diperbarui: Mei 30

Pandemi Covid-19 telah berdampak signifikan terhadap perekonomian dunia, tanpa terkecuali sektor energi. Fokus pasar saat ini telah bergeser pada perubahan pola konsumsi masyarakat dan bagaimana penanganan kelebihan pasokan minyak selama masa penanganan pandemi. Hal ini pun memicu perang harga minyak mentah oleh negara pemasok minyak mentah terbesar, seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Timur Tengah.


Pada awal tahun 2020, minyak mentah berada di atas 70 dollar per barrel. Harga tersebut mengalami penurunan signifikan, hingga 20 dollar per barel selama wabah Covid-19. Kebijakan penanganan pandemi telah melumpuhkan perjalanan udara dan darat, yang berdampak pada permintaan bensin, bahan bakar jet, dan diesel turun secara drastis. Hal tersebut mengancam masa depan industri Amerika Serikat, stabilitas negara-negara yang bergantung pada minyak, dan menekan aliran petrodolar melalui ekonomi global yang sedang melemah.


Para menteri yang bergabung dengan aliansi OPEC+ dan kelompok G-20 bersama-sama menyusun strategi untuk mengangkat harga minyak dari posisi terendah hampir 20 tahun terakhir. Pertemuan keduanya berhasil menetapkan perjanjian diantara negara-negara pemasok minyak terbesar untuk mengakhiri persaingan harga minyak mentah. Produsen minyak utama dunia melakukan kesepakatan untuk memangkas produksi minyak dunia hampir sebanyak 10 kali lipat guna mengakhiri perang harga selama penanganan virus corona.


Di atas perjanjian OPEC+, produsen minyak yang tergabung dalam G-20 akan berkontribusi dalam pemangkasan produksi. Produksi yang menurun akibat efek harga rendah di Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada akan dihitung sebagai upaya untuk memperdalam pengurangan pasokan global sebesar 3,7 juta barel per hari dengan Negara-Negara G-20 lainnya memberikan kontribusi 1,3 juta. Namun demikian, langkah tersebut dinilai tidak setara dengan pemotongan langsung yang dijanjikan oleh kartel.


Pemulihan harga secara cepat diperkirakan tidak mungkin terjadi. Pengaturan produksi diperkirakan berlangsung selama sekitar dua tahun. Selain dilakukan dengan cara menyalin model yang diadopsi oleh bank sentral untuk mengurangi pembelian obligasi mereka, OPEC juga akan mengurangi ukuran pemotongan dari waktu ke waktu. Setelah Juni 2020, potongan 10 juta barel akan meruncing menjadi 7,6 juta per hari sampai akhir tahun, dan kemudian menjadi 5,6 juta pada 2021 hingga April 2022.


Perang harga minyak memiliki dampak yang berbeda bagi setiap negara, tak terkecuali Amerika Serikat. Perang harga minyak telah menyebabkan Amerika Serikat mengalami guncangan terbesar dalam sistem perekonomian negara dengan meningkatnya jumlah angka pengangguran dan hutang negara untuk mengatasi krisis selama pandemi. Tercatat pada tahun 2020, Amerika Serikat memiliki jumlah hutang negara terbesar sepanjang sejarah.


Strategi yang disusun OPEC+ dan negara kelompok G-20 telah menunjukkan penanganan krisis tidak dapat dilakukan oleh masing-masing negara. Meskipun tiap nnegara produsen minyak mentah memiliki pendekatan tersendiri dalam mengatasi krisis, namun dibutuhkan kerjasama yang masif. Kerjasama yang masif diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi global.

Disadur dari Javier Blass, Salma El Wardany, dan Grant Smith dalam bloomberg.com 12 April 2020


#energi #minyak #harga #OPEC+ #G20

0 tampilan

Hubungi Kami

Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

Jalan Danau Jempang Blok B3 No. 81

Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

© 2020 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia