top of page

Mengurangi Emisi dari Pembangkit Listrik: Solusi Teknologi Bersih di Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan kondisi geografis yang beragam, seperti:


  1. Sinar matahari yang berlimpah: Indonesia terletak di garis khatulistiwa, sehingga mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun;

  2. Sumber daya air yang melimpah: Indonesia memiliki banyak sungai dan danau yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi air;

  3. Angin kencang: pada beberapa daerah di Indonesia, terdapat angin kencang yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi angina;

  4. Pantai yang panjang: Indonesia memiliki garis pantai yang panjang, sehingga memiliki potensi untuk pengembangan energi angin dan air.


Terdapat dua pendekatan utama untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik di Indonesia, yaitu transisi dari bahan bakar fosil menuju sumber energi terbarukan dan penerapan teknologi penangkapan karbon (CCUS), dengan pemanfaatan sebagai berikut:



Transisi Energi Terbarukan

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar dan terus mengembangkan teknologinya. Pendekatan ini berfokus pada pembangunan pembangkit listrik bersih skala besar untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar fosil, terutama batu bara.


Gambar 1. Instalasi pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi bersih di Indonesia

Sumber: Canva


1. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)Ā 

  • PLTS memanfaatkan sinar matahari yang melimpah di Indonesia untuk menghasilkan listrik;

  • Pemerintah dan PLN menargetkan peningkatan signifikan dalam kapasitas terpasang, termasuk PLTS terapung seperti PLTS Cirata di Jawa Barat;

  • Pengembangan teknologi panel surya yang lebih efisien dan murah akan mempercepat adopsi energi surya.


2. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)

  • Indonesia juga mengembangkan energi angin, dengan contoh PLTB Sidrap dan PLTB Jeneponto di Sulawesi Selatan;

  • Turbin angin memanfaatkan kekuatan angin untuk menghasilkan listrik tanpa emisi.


3. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

  • PLTA Saguling di Jawa Barat adalah contoh pemanfaatan energi air yang telah lama ada di Indonesia;

  • Meskipun tidak menghasilkan emisi, PLTA skala besar dapat menimbulkan dampak lingkungan lain yang harus dipertimbangkan.


4. Panas Bumi dan Biomassa

  • Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar karena letak geografisnya;

  • Energi biomassa dan biofuel juga terus dikembangkan sebagai alternatif bahan bakar fosil.



Teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCUS)Ā 

Teknologi ini dirancang untuk pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang masih beroperasi. CCUS dapat mengurangi emisi karbon dari pembangkit-pembangkit yang sulit untuk segera dihentikan.


1. Proses CCUS

  • Penangkapan (Capture):Ā Emisi karbon dioksida (CO2) ditangkap dari gas buang pembangkit sebelum dilepas ke atmosfer;

  • Pemanfaatan (Utilization):Ā CO2Ā yang ditangkap dapat digunakan kembali dalam proses industri atau injeksi untuk peningkatan produksi minyak (Enhanced Oil Recovery);

  • Penyimpanan (Storage):Ā CO2Ā diinjeksikan dan disimpan secara permanen di bawah tanah atau di bawah laut, pada formasi batuan atau bekas tambang gas.


2. Potensi dan implementasi di Indonesia

  • Indonesia disebut memiliki potensi penyimpanan CCUS terbesar di dunia, mencapai ratusan gigaton CO2;

  • Beberapa perusahaan, seperti Pertamina, telah melakukan uji coba CCUS di lapangan minyak.


3. Teknologi Ultra Super Critical (USC)

  • Untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang masih beroperasi, teknologi USC dapat meningkatkan efisiensi pembakaran batu bara secara signifikan, sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi lainnya hingga lebih dari 20%;

  • PLTU Jawa 9 & 10 adalah contoh pembangkit di Indonesia yang menerapkan teknologi ini.



Upaya Kebijakan dan Pendanaan

Penerapan teknologi bersih memerlukan dukungan kebijakan dan pendanaan yang kuat.

  • Penghentian dini PLTU: Institut for Essential Services Reform (IESR)Ā menyarankan penghentian dini PLTU batu bara yang sudah tua untuk mengurangi emisi dan biaya terkait subsidi;

  • Dukungan internasional: dukungan pendanaan dari luar negeri, seperti melalui program mekanisme transisi energi dari Asian Development Bank (ADB),Ā membantu membiayai penghentian dini PLTU dan transisi ke energi terbarukan;

  • Pajak karbon: Indonesia telah mengadopsi kebijakan pajak karbon untuk mengenakan biaya pada emisi gas rumah kaca. Pajak ini bisa menjadi sumber pendanaan untuk investasi energi terbarukan.


Berikut adalah lima contoh penggunaan energi terbarukan di Indonesia:


1. PLTS Cirata, Jawa Barat

PLTS Cirata adalah salah satu PLTS terbesar di Asia Tenggara. PLTS yang berkapasitas 192 megawatt peak (MWp)Ā ini memiliki 340.000 panel surya yang terbentang di atas lahan seluas 200 hektar. PLTS Cirata mampu menghasilkan listrik yang cukup untuk menerangi sekitar 50.000 rumah.


2. PLTS Likupang, Sulawesi Utara

PLTS Likupang, yang terletak di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, diresmikan pada 5 September 2019 setelah masa konstruksi sekitar 1,5 tahun dengan total biaya investasi mencapai 29,2 juta dollar AS. Di lahan seluas 29 hektar tersebut, sekitar 64.640 panel surya tersusun, memanfaatkan energi matahari. PLTS Likupang memiliki kapasitas terpasang sebesar 21 MWp dan berperan dalam menyokong suplai listrik di jaringan PLN Sulutgo (Sulawesi Utara-Gorontalo).


Gambar 2. Pemanfaatan energi angin melalui turbin PLTB sebagai solusi listrik rendah emisi

Sumber: Canva


3. PLTB Sidrap, Sulawesi Selatan

PLTB Sidrap, sebuah pembangkit listrik tenaga angin yang terletak di Sulawesi Selatan, merupakan salah satu pembangkit terbesar di Indonesia dengan kapasitas mencapai 75 MW. Pembangkit listrik ini, dikenal sebagai PLTB Sidrap I, adalah proyek pembangkit bertenaga angin skala komersial pertama di Indonesia. Proyek ini diselesaikan dalam rentang waktu 2,5 tahun, mulai dari Agustus 2015 hingga Maret 2018. Terdapat 30 kincir angin di PLTB Sidrap, masing-masing memiliki tinggi tower 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter, yang mampu menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 MW. Dengan kemampuannya, PLTB Sidrap I mampu memasok listrik kepada lebih dari 70.000 pelanggan dengan daya mencapai 900 voltĀ ampere (VA).


4. PLTB Jeneponto, Sulawesi Selatan

Sejak September 2019, PLTB Tolo 1, pembangkit listrik tenaga bayu yang terletak di Jeneponto, Sulawesi Selatan, telah beroperasi. Pembangkit ini merupakan bagian dari target bauran energi nasional dan dilengkapi dengan 20 Wind Turbin Generator (WTG)Ā dengan total kapasitas mencapai 72 megawatt.Ā Dengan panjang turbin mencapai 67 meter, diharapkan PLTB Tolo 1 mampu menyediakan listrik bagi 300.000 rumah tangga pelanggan dengan daya 900 VA.


5. PLTA Saguling, Jawa Barat

Terletak di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, PLTA Saguling berada pada ketinggian 643 meter di atas permukaan laut. Waduk Saguling sebagai waduk tempat PLTA ini mengandalkan sumber daya airnya, merupakan salah satu dari tiga waduk utama yang membendung aliran Sungai Citarum, sungai terbesar di Jawa Barat. PLTA Saguling memiliki kapasitas sebesar 700 MW, menjadi pusat pembangkit listrik yang handal yang mampu menghasilkan 2.156 GWh listrik setiap tahunnya. Selain itu, waduk Saguling juga memiliki peran ganda sebagai tempat penyimpanan air untuk menggerakkan turbin dan generator listrik serta sebagai lokasi kegiatan perikanan dan destinasi wisata bagi warga sekitar


Korespondensi Penulis

Isti Anisya/Isti Anisya /isti.anisy@gmail.com


Daftar Literatur:

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


© 2025 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

bottom of page