top of page

Masa Depan Anak Indonesia dalam Bayang Krisis Energi dan Iklim

Gambar 1. Ilustrasi pencemaran udara akibat aktivitas industri di kawasan perkotaan

Sumber: Canva


Suatu pagi, siswa-siswi melakukan rutinitas senam pagi di sekolah satu atap yang ada di Marunda, sebuah kelurahan di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Tidak ada yang berbeda dengan senam pagi siswa sekolah pada umumnya, namun sebagian besar dari mereka menggunakan masker untuk beraktivitas di sekolahnya. Lokasi gedung sekolah mereka sangat dekat dengan lokasi bongkar muat batu bara, hanya sekitar 500 meter. Debu dari lokasi bongkar muat batubara sering kali terbawa angin dan mengotori gedung sekolah. Mata kelilipan, batuk, dan merasakan tidak nyaman pada pernafasan sudah sering dirasakan siswa-siswi sekolah itu. Ini adalah cerita dari sebagian investigasi Najwa Shihab tentang Jejak Batu Bara di Pencemaran Udara Jakarta.


Tahun 2022, warga Rusunawa Marunda melakukan unjuk rasa di depan Balai Kota Jakarta. Mereka menuntut pencemaran abu batubara yang melanda kawasan tempat tinggal mereka. Dalam unjuk rasa itu, warga mengajukan tiga tuntutan, yaitu tanggung jawab lingkungan, kesehatan, dan sosial. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), debu batu bara yang mencemari Rusunawa Marunda dan kompleks sekolah di sekitarnya tebalnya bisa mencapai satu sentimeter. Tentu hal ini akan membahayakan kesehatan warga sekitar, terutama lansia dan anak-anak.



Ketergantungan pada Energi Fosil


Saat ini sistem tenaga listrik Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga batubara sebagai sumber dominan dalam bauran energi. Lebih dari 64 % listrik nasional dihasilkan dari pembangkit berbasis fosil, terutama batubara, sementara energi terbarukan menyumbang porsi yang jauh lebih kecil dalam total pembangkit listrik. Di sektor ketenagalistrikan, dominasi batubara ini menjadi tantangan besar dalam mengurangi emisi karena batubara merupakan salah satu sumber energi paling intensif karbon di dunia. Ketergantungan yang tinggi pada batubara juga tercermin dalam rencana tenaga listrik nasional, yang masih mencakup kapasitas batubara yang cukup besar dalam beberapa tahun mendatang, meskipun ada moratorium pembangunan pembangkit batubara baru sejak 2022.


Beberapa negara maju di Asia telah mengembangkan strategi jangka panjang yang ambisius untuk menurunkan emisi dari sektor energi mereka. Salah satu contohnya adalah Jepang, yang telah menetapkan target net-zero emisi gas rumah kaca pada tahun 2050, dengan menerapkan kebijakan energi yang menggabungkan peningkatan porsi energi terbarukan dan pemanfaatan kembali tenaga nuklir untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Strategi ini dituangkan dalam Rencana Strategis Energi Jepang yang mendorong diversifikasi sumber energi bersih dan peningkatan efisiensi energi di berbagai sektor, termasuk ketenagalistrikan.


Tiongkok, negara dengan permintaan energi terbesar di dunia telah mencanangkan target pencapaian peak emisi sebelum 2030 dan net zero carbon pada 2060 dengan fokus ekspansi besar-besaran pembangkit energi terbarukan seperti surya dan angin serta modernisasi sistem kelistrikan. Komitmen ini mencerminkan tren global di mana negara-negara di Asia tengah mengubah struktur energi mereka demi mengurangi emisi dan memenuhi target iklim internasional. Bagi Indonesia, memahami dan mengadaptasi praktik serta kebijakan jangka panjang tersebut sangat penting untuk merumuskan strategi transisi energi sendiri yang realistis dan efektif dan juga memastikan generasi masa depan memiliki lingkungan hidup yang lebih bersih dan aman.



Membangun Warisan Listrik yang Tangguh dan Bersih untuk Anak-Anak


Gambar 2. Ilustrasi pengembangan energi terbarukan sebagai sumber listrik bersih dan berkelanjutan

Sumber: Canva


Salah satu solusi utama untuk menurunkan emisi dari sektor ketenagalistrikan adalah ekspansi energi terbarukan skala besar. Energi surya fotovoltaik (PLTS) dan tenaga angin telah menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa di banyak negara karena biaya pembangkitan yang terus menurun — menurut International Renewable Energy Agency (IRENA), levelized cost of electricityĀ (LCOE) dari surya dan angin telah turun lebih dari 80 % dalam satu dekade terakhir, menjadikannya kompetitif dibanding pembangkit berbahan bakar fosil. Di Indonesia sendiri, potensi energi surya teoretis mencapai 207 GW, sementara potensi angin di berbagai wilayah seperti di selatan Jawa dan Nusa Tenggara diperkirakan mencapai puluhan gigawatt. Pembangunan PLTS dan PLTB skala besar dapat secara signifikan mengurangi emisi karbon pembangkit listrik bila dibandingkan dengan batubara, sambil mendiversifikasi sumber energi nasional.


Di era digital, teknologi digital dan sistem cerdas memainkan peran kunci dalam mengoptimalkan penggunaan energi dan mengurangi pemborosan. Smart gridĀ (jaringan listrik pintar) memanfaatkan sensor digital dan komunikasi real-time untuk menyeimbangkan permintaan dan pasokan energi secara lebih efisien, meningkatkan keandalan sistem, serta mengakomodasi integrasi sumber energi terbarukan yang variable seperti surya dan angin. Sistem penyimpanan energi (battery storage) juga semakin penting, karena memungkinkan listrik yang dihasilkan pada saat puncak (misalnya dari PLTS di siang hari) disimpan dan digunakan saat diperlukan, mengurangi kebutuhan pembangkit berbasis fosil. Teknologi seperti demand responseĀ mendorong konsumen untuk menyesuaikan konsumsi listrik mereka berdasarkan ketersediaan pasokan, sehingga membantu stabilisasi grid yang lebih bersih.


Relevansi teknologi digital semakin meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi energi di masa depan yang dipengaruhi oleh digitalisasi sekolah, rumah, dan sektor industri kreatif. Misalnya, penggunaan perangkat pintar di rumah dapat berkontribusi pada efisiensi energi total jika digabungkan dengan smart gridĀ dan penyimpanan baterai; demikian pula sekolah yang menggunakan PLTS atap dan menyimpan energi untuk kebutuhan belajar di luar jam puncak. Hal ini tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga menurunkan biaya operasional serta memberikan model yang mudah direplikasi di komunitas lain. Dengan kombinasi energi terbarukan, teknologi transisi, dan sistem cerdas berbasis digital, Indonesia dapat mempercepat transisi energi rendah karbon secara berkelanjutan.



Mengapa Transisi Energi Penting untuk Kehidupan Anak Indonesia


Transisi energi dari bahan bakar fosil ke sumber yang lebih bersih memiliki dampak kesehatan yang signifikan bagi anak-anak di Indonesia. Polusi udara dari pembangkit listrik berbasis batubara menghasilkan partikulat halus (PM2,5) dan gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SOā‚‚) yang berkaitan erat dengan masalah pernapasan. Menurut World Health Organization (WHO), paparan tinggi terhadap PM2,5 dapat meningkatkan risiko pneumonia dan asma pada anak-anak, serta memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada. Polusi udara memiliki hubungan langsung dengan berbagai penyakit yang mematikan. Pada tahun 2012, polusi udara dikaitkan dengan satu dari setiap delapan kematian di dunia, atau sekitar 7 juta kematian secara global. Dari jumlah tersebut, sekitar 600.000 korban adalah anak-anak di bawah usia lima tahun. Setiap tahunnya, hampir satu juta anak meninggal akibat pneumonia, dan lebih dari setengah kasus tersebut secara langsung berkaitan dengan polusi udara. Dengan memperluas penggunaan energi terbarukan, emisi dari pembangkit listrik dapat ditekan sehingga kualitas udara membaik. Sebuah langkah untuk meningkatkan kesehatan fisik anak dan juga menegaskan bahwa udara bersih adalah hak dasar setiap anak.


Lingkungan yang lebih aman menjadi alasan kuat lainnya mengapa transisi energi penting untuk kehidupan anak Indonesia. Perubahan iklim yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca berkontribusi pada peningkatan kejadian bencana alam seperti banjir, gelombang panas, dan kekeringan, yang seluruhnya berdampak langsung pada kehidupan dan keamanan anak. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), jika emisi tidak diturunkan secara drastis, frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem cenderung meningkat, memberikan tekanan tambahan pada infrastruktur sosial dan kesehatan. Mengurangi emisi dari pembangkit listrik melalui solusi teknologi bersih seperti energi terbarukan dan sistem cerdas tidak hanya menurunkan potensi risiko iklim, tetapi juga membantu melindungi lingkungan tempat anak-anak tumbuh dan berkembang.


Masa depan anak-anak Indonesia di tahun 2050–2070 bergantung pada langkah kita menjaga lingkungan hari ini. Saat dunia semakin haus akan energi di masa depan, komitmen kita pada energi terbarukan akan menjadi jaminan bagi mereka untuk tinggal di lingkungan yang layak. Dengan menyediakan udara bersih dan infrastruktur ramah iklim, kita sebenarnya sedang membangun jalan bagi anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang lebih sehat, kreatif, dan siap membangun bangsa. Negara-negara Asia telah menunjukkan bahwa transformasi ini memungkinkan dan menguntungkan. Kini saatnya Indonesia mengambil langkah yang sama. Masa depan anak-anak kita dimulai dari pilihan energi yang kita ambil hari ini.


Korespondensi Penulis

Yusuf Maulana AK /yusufkariem@gmail.com

Daftar Penulis

  • International Renewable Energy Agency (IRENA). (2023). Renewable Power Generation Costs.

  • Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Sixth Assessment Report.

  • World Health Organization (WHO). (2014). 7 million premature deaths annually linked to air pollution.

  • Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (2022). Laporan pencemaran debu batu bara di Rusunawa Marunda.

  • Investigasi Najwa Shihab. Jejak Batu Bara di Pencemaran Udara Jakarta.

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


© 2025 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

bottom of page