top of page

Konektivitas Hijau untuk Kota yang Kita Tinggali

16 jam yang lalu
3 menit membaca

Pertumbuhan melaju cepat, pembangunan terus dilakukan. Kota tidak pernah kehilangan aktivitas, semakin banyak manusia yang berusaha untuk tetap hidup di dalamnya. Kondisi kota yang menunut bekerja keras, memberikan sedikit ruang untuk berhenti dan menghirup udara segar. 


Salah satu tantangan yang muncul dari kondisit tersebut adalah Urban Heat Island (UHI) atau fenomena pulau panas perkotaan. Perkotaan mengalami suhu yang lebih tinggi karena dominasi permukaan terbangun, material yang menyerap dan menyimpan panas, aktivitas manusia, serta berkurangnya vegetasi.


Keberadaan ruang hijau menjadi penting dengan tingginya suhu yang berada di perkotaan. Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang mudah kita temui seperti taman, lapangan, jalur hijau, pepohonan di tepi jalan, atau kawasan yang masih memiliki vegetasi yang keberadaannya memiliki berbagai fungsi bagi kota. Peran RTH dalam fenomena UHI menjadi salah yang dapat membentuk kondisi termal lingkungan.


RTH perkotaan biasanya terrsebar dalam tempat yang terpisah. Ada taman di satu kawasan, jalur hijau di kawasan lain, vegetasi di sepanjang sungai, atau munkin kawasan yang masih memiliki tutupan hijau di pinggiran kota.


Manfaat keberadaan RTH ini berperan lingkungan di sekitarnya. Tidak hanya pada sekadar menyediakan taman atau memenuhi luasan saja, tetapi peran ini akan semakin bermanfaat ketika ruang-ruang tersebut dapat saling terhubung, manfaat ekologisnya berpotensi menjadi lebih luas.  Hal inilah yang disebut sebagai konektivitas hijau (green connectivity).


Konektivitas hijau menempatkan hubungan antar-ruang hijau sebagai bagian penting dalam perencanaan lanskap perkotaan. Konektivitas hijau menghubungkan lanskap  taman, kawasan vegetasi, atau hutan kota dengan koridor berupa jalur vegetasi, ruang terbuka, atau kawasan sepanjang sungai yang memiliki potensi untuk menjaga hubungan antar-ruang hijau yang akhirnya membentuk sebuah jaringan (network).


Gambar 1. Ilustrasi Konektivitas Hijau di Area Perkotaan

Sumber: Carbon Addons. (2024)


Sungai sebagai Koridor Hijau Kota


Salah satu peluang untuk membangun konektivitas tersebut dapat diimplementasikan pada kawasan sungai. Sungai memiliki karakter yang unik karena membentang dan menghubungkan berbagai bagian kota.  Kawasan sungai dapat menjadi koridor ekologis yang menghubungkan ruang-ruang hijau. Taman yang berada dekat sungai dapat terhubung dengan vegetasi di sepanjang sempadan. Ruang hijau di kawasan permukiman dapat memiliki hubungan dengan jalur hijau.


Hubungan ini menciptakan kesempatan untuk mempertemukan ruang biru dan ruang hijau dalam satu kesatuan lanskap kota. Dengan berbagai karakteristik sungai, kepadatan bangunan, keberadaan vegetasi dan penggunaan lahan di sekitar sempadan sungai, tidak menutup potensi bahwa infrastruktur kota dan fungsi ekologis ini bisa berdampingan.


Gambar 2. Konektivitas Hijau pada Sempadan Sungai.

Sumber: Lee, M. (2026).


Dalam konteks lingkungan termal, vegetasi juga merupakan salah satu elemen penting yang berhubungan dengan kondisi panas di perkotaan. Namun, pengaruh ruang hijau terhadap suhu tidak ditentukan oleh jumlah vegetasi saja. Bentuk, ukuran, konfigurasi, karakter vegetasi, serta lingkungan di sekitarnya turut membentuk kondisi tersebut.


Pendekatan ini juga memberikan cara baru dalam melihat pembangunan kota. Alam sebaiknya tidak ditempatkan sebagai elemen yang tersisa setelah kebutuhan pembangunan terpenuhi. Infrastruktur hijau melihat elemen alami dan semi-alami sebagai bagian dari sistem yang dapat memberikan berbagai manfaat ekologis, sosial, dan lingkungan bagi kota.

Konektivitas hijau dapat menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan antara berbagai ruang hijau dan mengarahkannya menjadi sebuah jaringan yang lebih terintegrasi.

Sehingga, membangun kota yang kita tinggali tidak hanya fokus pada penambahan ruang hijau secara terpisah. Menghubungkan ruang terbuka perlu menjadi perhatian dari awal perencanaan, karena konektivitas hijau adalah bagian dari struktur kota. 



Korespondensi Penulis:

Safira Maharaniputri (fira.maharaniputri@gmail.com)


Daftar Literatur

  1. Lee, M. (2026). Sungai yang tenang mengalir melalui lanskap hijau dengan struktur perkotaan [Foto]. Unsplash. Unsplash. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2026

  2. Carbon Addons. (2024, July 12). Meningkatkan kualitas lingkungan melalui green infrastructure dan pengurangan emisi. LinkedIn. LinkedIn. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2026



 
 
 

Komentar


© 2025 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

bottom of page