Cari
  • PSII Indonesia

Keruntuhan Harga Minyak dapat Memicu Pengembangan Energi Panas Bumi

Diperbarui: Mei 23

Perubahan operasi di layanan ladang minyak yang berubah secara drastis dapat memberikan peluang untuk mendorong pengembangan upstream panas bumi.

Pandemic Covid-19 yang terjadi di awal tahun 2020 datang sebagai ‘game changer’ yang luar biasa kepada sektor minyak dan gas. Pandemic ini mendorong perubahan konsumsi bahan bakar minyak secara drastis dalam waktu singkat, terutama dengan pemberlakuan pembatasan aktivitas masyarakat secara luas di berbagai negara.


Geothermal merupakan sumber energi terbesar di Amerika yang belum termanfaatkan dengan optimal. Menurut data US Energy Information Administration (EIA), sumber daya panas bumi di Amerika Serikat sangat besar, tetapi energi panas bumi hanya menyumbang 0,4 persen dari total pembangkit listrik skala utilitas di Amerika Serikat pada 2019. Secara global, Amerika memimpin dalam pembangkit listrik panas bumi, tetapi dalam di Amerika sendiri, panas bumi merupakan bagian yang dapat diabaikan dari total pembangkit listrik.


Persentase tersebut dapat berubah apabila biaya eksplorasi menurun secara signifikan dan teknologi terus meningkat. Skenario tersebut memungkinkan energi panas bumi bertumbuh 26 kali lipat dan menghasilkan 8,5 persen bauran energi listrik di Amerika Serikat. Ini berarti bahwa panas bumi dapat menyumbang 3,7 persen dari total kapasitas terpasang di Amerika pada tahun 2050. Jumlah tersebut diyakini lebih besar dibanding energi yang dihasilkan dari angin dan matahari.


Jatuhnya harga minyak telah merusak industri minyak dan dapat melemahkan layanan penyedia minyak. Perusahaan eksplorasi dan produksi Amerika Serikat mengalami kemacetan dan mengumumkan pengurangan 20-30 persen dalam pengeluaran modal. “Selama penurunan terakhir, perhitungan pemasok Amerika Serikat menurun dengan cepat menjadi di bawah 400. Hal ini akan berlangsung lebih dalam. Akibatnya biaya layanan ladang minyak kemungkinan akan menurun 20-40 persen atau lebih,” papar Tim Latimer, co-founder dan operator Fervo Energy.


Menurut DOE dalam analisis GeoVision menyatakan bahwa penurunan biaya bisa menjadi insentif utama untuk pengembangan panas bumi, di samping dengan mengoptimalkan jadwal perizinan. Tim Latimer, co-founder dan operator Fervo Energy mengatakan bahwa setelah harga minyak jatuh, pemain industri minyak mulai mengumumkan pengurangan biaya dan belanja modal secara massal. Namun demikian, rantai pasokan panas bumi yang umumnya berjalan tumpang tindih dengan minyak dan gas terutama dalam hal pengeboran sumur ke daerah panas untuk menghasilkan uap dapat memberi peluang perusahaan jasa di bidang pengeboran minyak dan gas untuk pengembangan panas bumi.


Latimer melanjutkan bahwa penurunan biaya layanan lapangan minyak saja dapat menyebabkan biaya pengeboran untuk panas bumi lebih rendah sebesar 20 persen atau lebih. “Biaya pengeboran yang lebih rendah untuk panas bumi dikombinasikan dengan suka bunga yang lebih rendah dan kebangkitan retroaktif serta perpanjangan Kredit Pajak Produksi penuh untuk fasilitas panas bumi dari Desember 2019 dapat menyebabkan penurunan 20-30 persen dalam panas bumi dari 65-75/MWh dollar pada awal tahun ini,” papar Latimer.


Energi panas bumi tidak hanya dapat memperoleh manfaat dari biaya pengeboran dan pengembangan yang lebih rendah, tetapi juga dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya minat dari sektor minyak dan gas dalam pengembangan panas bumi. “Minyak dan gas bumi memiliki dana dan kemampuan serta cara cepat dalam memajukan teknologi dan penyebaran panas bumi,” papar Kate Young, Manager Program Panas Bumi di Laboratorium Energi Terbarukan Nasional mengatakan kepada Grist pekan lalu.


Penurunan harga minyak saat ini memungkinkan terjadinya penurunan jumlah ladang minyak hingga mencapai jumlah yang mirip dengan tahun 200an. Namun demikian, seorang ahli panas bumi mengungkapkan bahwa untuk mencapai energi bersih 100 persen akan lebih dimungkinkan dengan cara yang juga membuat ladang minyak kembali aktif. Pengembangan panas bumi secara intensif pada lebih dari 100 rig dapat mengaktifkan kembali sepertiga ladang minyak yang menghasilkan 24/7 energi yang lebih bersih dibanding sebelumnya.


Harga minyak turun pada titik terendah secara signifikan sepanjang sejarah, membuka kesempatan dalam pengembangan panas bumi dari energi terbarukan. Perubahan operasi di layanan ladang minyak yang berubah secara drastis dapat memberikan peluang untuk mendorong pengembangan upstream panas bumi. Diharapkan, dengan tersedianya sisi supply dari aktivitas hulu untuk pengembangan panas bumi, dapat memberikan sedikit ruang dalam mendukung terciptanya energi bersih dari pemanfaatan panas bumi secara tidak langsung.

Disadur dari Tsvetana Paraskova dalam oilprice.com 13 April 2020

0 tampilan

Hubungi Kami

Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

Jalan Danau Jempang Blok B3 No. 81

Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

© 2020 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia