Dari Audit ke Aksi: Mendorong Efisiensi Energi Rumah Sakit di Kota Jambi
- amalia d
- 23 jam yang lalu
- 4 menit membaca
Mengapa Efisiensi Energi Rumah Sakit Penting?
Sektor bangunan merupakan salah satu sektor yang menyumbang penggunaan energi dan emisi karbon yang signifikan. Salah satu jenis bangunan yang memiliki kebutuhan energi tinggi adalah rumah sakit. Rumah sakit merupakan bangunan yang beroperasi 24 jam dengan penggunaan energi yang cukup besar. Aktivitas sepanjang waktu tersebut mencakup kebutuhan energi Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) yang tinggi, penerangan intensif, dan alat medis berdaya tinggi. Tingginya kebutuhan energi tersebut tercermin dalam Intensitas Konsumsi Energi (IKE) yang 2–3 kali lebih tinggi dibandingkan bangunan komersial. Konsumsi energi yang tinggi berpengaruh pada biaya operasional dan berkontribusi terhadap emisi.
Dengan tingginya kebutuhan energi tersebut, upaya efisiensi energi menjadi penting. Efisiensi energi layak dilakukan karena berpotensi menurunkan biaya operasional listrik serta mendukung pengurangan emisi. Selain itu, pelaksanaan efisiensi sejalan dengan agenda serta kebijakan energi dan bangunan. Di tingkat nasional, terdapat Permen PUPR No. 21/2021 tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau (BGH) serta Permenkes No. 7/2019 dan Permenkes No. 2/2023 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, yang salah satunya mencakup penghematan energi listrik. Di tingkat daerah, upaya tersebut sejalan dengan Perda Provinsi Jambi No. 13/2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Tahun 2019–2050.
Belajar dari Pilot Efisiensi Energi di Kota Jambi
Pemahaman mengenai kondisi penggunaan energi di rumah sakit menjadi langkah awal dalam mengidentifikasi peluang efisiensi energi. Hal tersebut dilakukan melalui kegiatan pilot di Kota Jambi yang diawali dengan studi baseline dan seleksi rumah sakit. Tahap awal dimulai dengan memetakan 17 rumah sakit di Kota Jambi melalui data scraping dan desk study. Aktivitas tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran umum rumah sakit. Selanjutnya, dilakukan kajian awal melalui kuesioner dan wawancara. Dari 17 rumah sakit tersebut, terdapat 10 rumah sakit yang memberikan respons.
Berdasarkan kajian awal tersebut, tiga rumah sakit kemudian dipilih untuk mengikuti audit sederhana. Pemilihan tersebut menggunakan metode Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dan expert discussion. Beberapa kriteria yang digunakan mencakup kelengkapan data, kajian awal IKE, jenis sistem pendinginan, umur gedung, kesediaan dan kesiapan RS, dan sebaran sampling.
Temuan Audit: Di Mana Energi Terbuang?

Gambar 1. Pelaksanaan audit energi dan pengukuran kondisi sistem kelistrikan di rumah sakit pilot Kota Jambi
Sumber: WWF Indonesia & Auriga (2026)
Hasil audit energi pada tiga rumah sakit pilot di Kota Jambi menunjukkan bahwa konsumsi listrik didominasi oleh sistem HVAC, yang menyumbang 69–72% konsumsi listrik di ketiga rumah sakit. Konsumsi energi tahunan ketiga rumah sakit berkisar antara 1,18 hingga 2,05 juta kWh, dengan IKE sebesar 71,73–217,90 kWh/m²/tahun. Nilai IKE menunjukkan tingkat efisiensi yang bervariasi, mulai dari sangat efisien, efisien, hingga inefisien. Adapun, seluruh ruangan yang diukur berada di bawah standar pencahayaan SNI 6197:2020. Di sisi lain, hanya 9–29% ruangan memenuhi standar temperatur Permenkes No. 40/2022. Infiltrasi udara juga terjadi di hampir seluruh lokasi serta pelabelan panel listrik belum lengkap.
Hasil audit juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap tingginya konsumsi energi. Pada sistem pendingin, ditemukan sejumlah kondisi yang mencakup beberapa AC Standar Kinerja Energi Minimum (SKEM) bintang 2, infiltrasi tinggi karena pintu atau jendela terbuka, suhu di atas 27°C, serta atap tanpa insulasi termal pada salah satu rumah sakit. Adapun, pencahayaan menunjukkan banyak lampu tidak efisien dan mati atau rusak. Peralatan medis tetap beroperasi 24 jam meskipun tidak digunakan dan beberapa peralatan medis lama menggunakan teknologi dengan konsumsi listrik besar. Lebih lanjut, kompresor udara dan pompa vakum berjalan tanpa load management. Terkait utilitas, pompa air tidak otomatis dan mengalami kebocoran, capacitor bank tidak berfungsi, tidak ada submetering, dan lift belum memakai mode hemat energi.
Dari Temuan Menuju Aksi: Efisiensi Tidak Selalu Mahal
Temuan audit kemudian diterjemahkan menjadi beberapa strategi efisiensi. Strategi efisiensi dibagi menjadi no-cost, low-cost, dan medium-high cost. Adapun strategi no-cost mencakup set point AC dari 22°C menjadi 24–25°C, mematikan lampu dan peralatan non-operasional, serta menutup pintu dan jendela saat AC menyala. Strategi low-cost mencakup memasang LED retrofit, air sealing, serta perawatan filter AC. Tindakan tersebut membutuhkan biaya awal relatif rendah dan diperkirakan dapat mengembalikan biaya investasi sekitar 1-2 tahun. Sementara itu, strategi medium-high cost mencakup penggantian AC split menjadi sistem sentral, penggantian AC ke SKEM 4, dan memasang kaca low-e/window film.
Memperkuat kolaborasi dan Keberlanjutan Efisiensi Energi

Gambar 2. Diseminasi hasil pilot efisiensi energi rumah sakit di Kota Jambi
Sumber: WWF Indonesia & Auriga (2026)
Pelaksanaan pilot juga memberikan sejumlah pembelajaran untuk keberlanjutan upaya efisiensi energi. Salah satu tantangan yang ditemukan adalah data sekunder tidak selalu tersedia sehingga diperlukan walkthrough audit dan pengukuran primer. Selain keterbatasan data, praktik audit langsung di rumah sakit juga meningkatkan retensi keterampilan. Sementara itu, pelatihan tiga hari belum cukup sehingga diperlukan mentoring pascapelatihan. Di sisi lain, local champions mulai muncul dan membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Lebih lanjut, keberhasilan implementasi pilot dapat menjadi bukti untuk mendorong replikasi.
Upaya efisiensi energi juga membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Manajemen rumah sakit perlu memiliki komitmen dan dukungan sebelum proses audit. Pemerintah daerah berperan sebagai regulator dan koordinator kebijakan. Kegiatan pilot melibatkan Dinas ESDM, Bapperida, Dinas Kesehatan, Dinas PUPR, manajemen rumah sakit, WWF, CSO, serta universitas/pusat studi/sektor swasta. Efisiensi energi bukan hanya terkait persoalan teknis rumah sakit, melainkan juga membutuhkan koordinasi lintas pemangku kepentingan.
Korespondensi Penulis
Ingga Amalia Dewi/inggaamaliadewi@gmail.com
Daftar Pustaka
WWF Indonesia & Auriga. (2026). Diseminasi Hasil “Baseline Study Energy Building, Walkthrough Audit, dan Capacity Building”: Pilot Efisiensi Energi Bangunan Rumah Sakit di Kota Jambi.




Komentar