Cari
  • PSII Indonesia

Transformasi Upaya Penyediaan Hunian di Perkotaan

Diperbarui: Mei 11

Desain kota kompak dan penggunaan lahan campuran menjadi solusi untuk pengaturan kota yang lebih efektif untuk menyediakan hunian masa depan.

Rumah adalah satu dari tiga kebutuhan esensial manusia untuk dapat berlindung dan bertahan hidup. Bangunan rumah yang mengelompok atau dikenal sebagai perumahan sering dijumpai di perkotaan. Lebih dari itu, Kawasan perumahan kini sering dijadikan tolok ukur gaya hidup, kemampuan finansial seseorang, hingga bentuk keberhasilan dalam bekerja. Sudah menjadi hal wajar bila pada area perkotaan selalu identik dengan kawasan perumahan elite.


Meskipun identik dengan para elite, kawasan perumahan pun tak lantas terlepas dari permasalahan bahkan sejak awal pembangunannya. Seperti yang terjadi pada salah satu kawasan permukiman elite di Kota Lafayette, California, Amerika Serikat pada tahun 2012. Saat itu, Kota Lafayette yang dihuni oleh 25,000 berupaya mempertahankan statusnya sebagai kota kecil dan menjaga kotanya agar tidak tumbuh secara menyebar. Pembangunan hunian vertikal pun dipilih untuk mendukung upaya tersebut.


Seorang pengembang telah mengusulkan untuk menempatkan 315 apartemen dengan nilai harga properti yang tinggi di sepanjang Deer Hill Road, berdekatan dengan stasiun Bay Area Rapit Transit, dan melihat pemandangan yang menyenangkan. Peraturan zonasi telah memberi izin untuk pembangunan tersebut, namun gejolak terjadi di lingkungan sosial sekitar yang dapat membuat Terraces tidak dapat terbangun. Penduduk setempat bereaksi terhadap proyek pembangunan tersebut dan melakukan aksi setiap hari Senin selama tahun 2012 dan 2013. 

Hampir semua tantangan terbesar di Amerika, pada tingkat tertentu, merupakan masalah perumahan. Biaya rumah yang terus meningkat menjadi pendorong utama pemisahan, ketimpangan, serta konflik ras dan generasi. Lebih dari itu, terdapat pula tantangan di sektor lingkungan sebagai implikasi dari perubahan lanskap perkotaan dan tidak adanya rencana yang serius untuk menangani perubahan iklim. Ini tampak dari tidak adanya inisiasi pembicaraan tentang bagaimana mengubah lanskap perkotaan sehingga masyarakat dapat tinggal dekat dengan perkantoran.


Menurut McKinsey Global Institute, negara perlu menciptakan 3,5 juta rumah pada tahun 2025, lebih dari tiga kali lipat kecepatan saat ini untuk memperbaiki masalah keterjangkauannya. Untuk memikul angka tersebut membutuhkan pembangunan lebih banyak dari biasanya, berupa perumahan bersubsidi, perumahan tingkat pasar, apartemen, kondominium, koorporasi, dan apartemen di wilayah utama kota-kota seperti di Kota Lafayette. Pada awal 1980an, selama krisis perumahan terjadi, California meloloskan sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk merampingkan lahan bagi perumahan, namun hal ini memicu kesenjangan perumahan. Pada akhir Januari, Badan Legislatif menolak S.B. 50, sebuah RUU yang akan mendorong kota untuk menerima banguan berlantai empat hingga lima di daerah yang sarat dengan kemudahan.


Upaya pembangunan perumahan terus diperjuangkan. Pada akhir 2018, Minneapolis menjadi kota besar pertama di Amerika yang secara efektif mengakhiri zonasi rumah bagi keluarga tunggal. Oregon mengikuti segera setelah itu. California dan New York telah secara signifikan memperluas perlindungan bagi penyewa. Namun demikian, upaya tersebut terus menghadapi tantangan. Banyak ekonom memberikan kepercayaan pada anggapan bahwa krisis perumahan dapat secara material merusak GDP, dengan memperburuk ketidaksetaraan dan mengurangi peluang, semua kandidat Presiden dari partai Demokrat mengajukan proposal perumahan besar.


Apa yang disarankan disini adalah solusi nyata secara humanis. Orang-orang perlu menyadari bahwa tunawisma selalu terkait dengan harga perumahan. Mereka harus menginternalisasi pelajaran dari tunawisma, bahwa bila menginginkan anak-anak mereka memiliki masa depan keuangan yang stabil, maka mereka harus menyediakan ruang bagi masa depan. Pola pembangunan rumah secara menyebar kini perlu dipertimbangkan.


Semakin bertambahnya jumlah populasi di suatu kota menjadikan faktor pemicu permukiman terus dibangun untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat kota. Kejadian yang dialami kota-kota di Amerika Serikat memberikan pembelajaran dalam proses perencanaan kota. Penyediaan perumahan secara menyebar dan tidak terkendali kian menurunkan jumlah lahan terbuka. Hal ini juga berimplikasi terhadap beban bagi generasi mendatang, mulai dari meroketnya harga tanah dan properti, serta biaya lingkungan yang harus ditanggung.


Desain kota yang kompak dan memiliki fungsi campuran menjadi langkah yang diambil kota-kota besar di Amerika Serikat. Langkah ini tentu dapat direplikasi di berbagai belahan dunia dalam mencari jalan keluar bagi perencanaan perkotaan. Perencanaan yang didasari oleh skenario dengan memperhitungkan kemungkinan yang akan dihadapi di masa mendatang selalu menjadi kunci dalam penyediaan hunian bagi masyarakat kota secara khusus, serta dalam perencanaan perkotaan pada skala yang lebih luas.



Disadur dari Conor Dougherty dalam nytimes.com pada 14 Februari 2020

#Housing #Lafayette #mixlanduse #urbanplanning #compactcity#US

0 tampilan

Hubungi Kami

Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

Jalan Danau Jempang Blok B3 No. 81

Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

© 2020 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia