My Items

I'm a title. ​Click here to edit me.

Selamat Hari Lingkungan

Mari jaga lingkungan kita, mulai dari diri sendiri dan mulailah dari hal yang terkecil di sekitarmu. Sedikit aksi perubahanmu, menyelamatkan lingkungan dari berbagai kerusakan. Sejenak memahami makna Hari Lingkungan Sedunia Setiap tahun tepat pada tanggal 5 Juni, sejarah mencatat lahirnya kesepakatan dunia untuk menyadari keberadaan bumi dan bertanggungjawab untuk menjaga kelestarian makhluk hidup dan ekosistem yang ada di dalamnya. Penetapan Hari Lingkungan Sedunia ini berlangsung dalam konferensi yang diselenggarakan di Stockholm pada tahun 1972 di inisiasi oleh Jepang dan Senegal mempertimbangkan saat itu kondisi lingkungan banyak sekali dilanda bencana. Semenjak penetapan adanya Hari Lingkungan Sedunia ini, selalu diadakan pertemuan internasional diselenggarakan oleh UNEP rutin membahas tentang isu lingkungan yang terjadi dengan mengusung tema yang berbeda. Tahun ini, seharusnya konferensi ini diselenggarakan di Kolombia dengan tema "Biodiversity" atau " Keanekaragaman Hayati" namun kondisi global tengah dilanda pandemik. Biodiversity membawa ingatan kita kepada beragam jaringan rantai kehidupan yang sangat beragam dihutan, berbagai makhluk yang hidup di air, tanah dan udara bergantung pada hutan, termasuk manusia. Keberadaan hutan menjadi sumber kontrol adanya polusi yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia, memberikan suplai kebutuhan SDA yang bisa dimanfaatkan oleh manusia, menjadi rumah bagi berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Hutan sebagai sumber plasma nutfah kehidupan. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan manusia, teknologi yang digunakan untuk memanfaatkan sumber alam, mendorong manusia yang "serakah"cenderung akan memanfaatkan semua sumberdaya hutan yang berlimpah untuk "mengeruk pundi-pundi keuntungan pribadi". Tindakan ini tidak memikirkan dampak lain seperti rusaknya habitat makhluk yang tinggal di hutan, degradasi lingkungan, hilangnya pemanasan global yang menyebabkan ancaman perubahan iklim. Indonesia dulu memiliki hutan yang sangat luas, namun setiap tahun tutupan lahan hutan yang luas di Indonesia selalu berkurang setiap tahun. Hal ini banyak disebabkan karena adanya pembukaan lahan untuk berbagai aktivitas industri yang dinilai mendorong pencapaian ekonomi yang signifikan. Namun, pembukaan lahan ini dilakukan dengan membakar hutan. Tercatat pada tahun 2019 telah terjadi kebakaran hutan di Indonesia yang lebih parah dari kebakaran hutan Amazon. Luas hutan yang terbakar mencapai 328.724 hektar dan menimbulkan berbagai penurunan kualitas udara di wilayah kebakaran hutan maupun berdampak di wilayah sekitarnya. Kebakaran hutan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia tahun 2019 lalu, sangat mempengaruhi kualitas udara yang menyebabkan jarak pandang yang sangat pendek, sesak napas/ISPA dan berbagai kerugian lingkungan dan material. Peristiwa ini menjadi pengalaman pembelajaran besar bagi Indonesia maupun negara terdampak yang bertetangga dengan Indonesia, mewujudkan lingkungan berkelanjutan yang tidak merusak lingkungan menjadi tujuan kita bersama. Mari bergerak dari hal sederhana dalam menjaga lingkungan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan sebarkan pengaruh positif kepada lingkungan sekitar untuk menjaga lingkungan kita. Selamat Hari Lingkungan Sedunia!!!! #HappyEnvironmentDay#Sustainable#Biodiversity#ClimateChange#

Udara Bersih Selama Lockdown Tingkatkan Kesehatan Pernapasan

Langkah lockdown untuk menekan laju penanganan Covid-19 telah mengurangi aktivitas sektor transportasi. Penurunan jumlah kendaraan telah menurunkan tingkat konsumsi energi dan permintaan terhadap bahan bakar minyak. Perubahan aktivitas transportasi dan penurunan permintaan minyak memberikan dampak signifikan terhadap kualitas lingkungan. Di Inggris, kebijakan lockdown dan peningkatan kualitas lingkungan diperkirakan membawa dampak positif bagi para penderita gangguan pernapasan. Setiap tahun, polusi udara menyebabkan puluhan ribu kematian dini di Inggris. Lebih dari sepertiga bagian wilayah di Inggris memiliki tingkat polusi udara berukuran partikel halus. Nitrogen dioksida dan polutan yang diproduksi sebagian besar oleh kendaraan diesel berada pada tingkat di 80% wilayah perkotaan. Penurunan kadar partikel halus dan polusi NO2 selama lockdown diperkirakan mencapai setengahnya. Berdasarkan hasil survei yang diperoleh dari British Lung Foundation menemukan bahwa terdapat lebih dari 50% penderita gangguan pernapasan menyatakan bahwa mereka telah merasakan penurunan polusi udara sejak dimulainya kebijakan lockdown. Dua juta penderita gangguan pernapasan seperti asma di Inggris menunjukkan penurunan gejala selama periode lockdown. Hasil survei yang dilakukan pada 14.000 orang dengan kondisi gangguan pernapasan menunjukkan satu dari enam penderita asma telah mengalami peningkatan kesehatan. Angka peningkatan ini terjadi lebih tinggi pada kategori anak-anak yang ditandai dengan satu dari lima orang tua mengatakan bahwa kondisi anak mereka telah mengalami peningkatan kesehatan. Terdapat hubungan antara polusi udara dengan penyakit paru-paru. Tercatat dari 12 juta orang yang menderita gangguan pernapasan seperti asma dan penyakit paru-paru kronis, sekitar 8 juta penderita telah didiagnosis menderita asma, dimana sebanyak 5,4 juta dari mereka telah menerima perawatan. Berdasarkan data yang bersumber dari Public Health England menyatakan bahwa jumlah kunjungan gawat darurat rumah sakit untuk penderita asma juga ikut mengalami penurunan hingga setengahnya. Belum jelas terkait penyebab penurunan tersebut apakah disebabkan oleh pengurangan gejala asma atau keengganan setiap orang untuk mengunjungi rumah sakit selama pandemi Covid-19. Penurunan polusi udara telah dirasakan beberapa negara lainnya, seperti New York yang nyaris mencapai penurunan 50 persen dan China sebesar 25 persen. Semakin banyak juga bukti dari seluruh dunia yang menghubungkan peningkatan infeksi Covid-19 dan kematian akibat paparan polusi udara. Ketika banyak proses industri terhenti, penurunan jumlah transportasi, dan perusahaan yang beroperasi telah meningkatkan kualitas udara, khususnya di perkotaan. Tingkat polusi udara perlu diupayakan agar selalu berada pada tingkat terendah untuk membantu menghindari puncak infeksi kedua dari wabah pandemi Covid-19. Disadur dari Carrington dalam www.theguardian.com pada 4 Juni 2020 #cleanair #airpollution #lockdown #covid-19

PSI Indonesia Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1441 H

Ramadhan tahun ini terasa lebih berbeda, tapi tak pernah kehilangan maknanya. Ramadhan tahun ini terasa lebih berbeda, tapi tak pernah kehilangan maknanya.
Kita berjarak tapi tetap saling terhubung. Kami segenap keluarga besar Pusat Studi Infrastruktur Indonesia mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H mohon maaf lahir dan batin Semoga semangat Ramadhan tetap tinggal di hati kita dan menerangi jiwa kita dari dalam. #Ramadhan #togetherness #staysafe #newnormal Celebrating Ramadhan feels different this year, but it never loses its meaning. We are all in distance but still connect with each other. Sending warm wishes to you,
Have a blessed Eid 1441H
May the spirit of Ramadhan stay in our heart and illuminate our soul from within. Sincerely,
Indonesia Infrastructure Research Centre #Ramadhan #togetherness #staysafe #newnormal

Pandemi dan Turun Naik Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia sempat anjlok di tengah Pandemi Covid-19. Patokan harga minyak Eropa, Brent Crude, mengalami penurunan menjadi sekitar $16 (Rp 249.248,00) per barel di pasar Asia. Angka ini mencapai angka terendah dalam 21 tahun terakhir. Sementara di Amerika Serikat, harga minyak mengalami penurunan hingga mencapai di bawah nol untuk pertama kalinya sehingga menyebabkan negara Paman Sam ini terus berupaya dalam meningkatkan harga minyak tersebut untuk perbaikan perekonomian negara. Harga minyak naik ke level tertinggi sejak Maret 2020 dalam skala perdagangan dunia pada hari Kamis (21/5/2020) waktu setempat. Hal tersebut juga didukung oleh turunnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS). Pemangkasan pasokan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pemulihan permintaan minyak seiring pelonggaran lockdown turut mendukung harga minyak. Harga minyak Brent naik 31 sen atau 0,87 persen menjadi 36,06 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 43 sen atau 1,28 persen menjadi 33,92 dollar AS per barrel. Data terbaru menunjukkan penurunan terhadap persediaan minyak mentah AS sebesar 5 juta barel pada pekan lalu. Pada skala perdagangan minyak mentah berjangka mulai mendekati level dimana penurunan produksi serpih AS akan mulai melambat dan mungkin berbalik ketika produsen berbiaya rendah berusaha untuk menghasilkan pendapatan. Pada saat yang sama, terdapat bukti pulihnya penggunaan bahan bakar. Pasokan global telah dibatasi pada tingkat yang besar akibat runtuhnya permintaan pada masa pemberlakuan lockdown, namun saat ini berada di jalur yang jelas menuju pemulihan secara bertahap. OPEC menyatakan bahwa pasar telah merespon dengan baik. Maskapai penerbangan ternama AS dan Air Canada (AC.TO) telah melaporkan adanya penurunan pembatalan tiket dan peningkatan pemesanan di beberapa rute, meskipun permintaan tiket penerbangan secara keseluruhan tersebut masih tergolong lemah. Dalam hal ini, OPEC dan OPEC+ sepakat untuk memotong pasokan 9,7 juta barrel per hari mulai 1 Mei 2020. Hingga bulan Mei, OPEC+ telah memotong ekspor minyak sekitar 6 juta barrel per hari dan hal ini menjadi awal positif dalam mematuhi kesepakatan. Tak butuh waktu lama untuk mengatasi penurunan harga minyak mentah. Anjloknya harga minyak mentah dunia yang dikaitkan dengan kebijakan lockdown selama masa penanganan pandemi Covid-19 kini berangsur pulih. Perlahan tapi pasti, produsen minyak serpih akan kembali membuka keran produksi setelah kontrak berjangka minyak jatuh ke wilayah negatif pada April 2020 hingga memicu kejadian PHK dan perlambatan pengeboran dan pembatasan jumlah rig yang beroperasi. Hukum ekonomi berlaku pada harga minyak mentah yang kembali normal, bahkan melambung, seiring dengan permintaan yang kembali normal. Disadur dari Sakina Rakhma Diah Setiawan dalam money.kompas.com pada 22 Mei 2020 #energi #minyakmentah #Covid-19

PSI Indonesia: Bersama Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Tahun 2020 menjadi momentum bagi PSI Indonesia untuk tampil dengan wajah baru. Kami tampil dengan lebih mengedepankan kaum muda untuk berperan aktif mencapai Agenda SDGs dalam 10 tahun yang akan datang. Kami juga mengajak semua pihak, bersama-sama, mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui aktivitas utama kami dalam riset, konsultasi publik, dan jejaring pengetahuan. Logo baru PSI Indonesia mengadopsi beberapa warna dari agenda pembangunan berkelanjutan. Warna tersebut menjadi simbol fokus sektor PSI Indonesia yang meliputi penataan ruang dan perkotaan, infrastruktur yang mencakup transportasi, energi, air minum dan sanitasi, serta lingkungan. Kolaborasi dan berjejaring menjadi nilai penting bagi PSI Indonesia dalam mendukung kebersamaan untuk mencapai SDG. Nilai ini mendasari seluruh kegiatan dan memungkinkan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan – pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi dan pemuda. Selamat Hari Kebangkitan Nasional! Selamat Datang di Wajah Baru PSI Indonesia! #PSIIndonesia

Peluang Besar Mitigasi Iklim di Masa Pandemi

Emisi karbondioksida telah mengalami penurunan selama wabah pandemi Covid-19 berlangsung. Studi Internasional tentang Emisi Karbon Global telah menemukan bahwa penggunaan emisi karbon harian mengalami penurunan hingga 17% antara Januari dan awal April ini, dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2019, dan diprediksikan akan terus menurun pada kisaran antara 4,4%-8% hingga akhir tahun ini. Angka ini menandai bahwa telah terjadi penurunan emisi karbon terbesar sepanjang tahun. Studi emisi karbon telah dilakukan pada sejumlah 69 negara. Terbatasnya data emisi karbon untuk penggunaan waktu secara nyata membuat para peneliti membangun algoritma mereka sendiri. Mereka menciptakan indeks penurunan berdasarkan beratnya kebijakan pandemi. Dimana angka 0 digunakan untuk mewakili tidak ada kebijakan lockdown selama pandemi dan angka 3 mewakili kebijakan lockdown secara maksimal dengan peraturan tetap berada di rumah dan menutup kegiatan perekonomian. Para peneliti menggunakan metode tersebut dalam memeriksa data harian dari enam sektor ekonomi yang berkontribusi terhadap emisi karbon, termasuk transportasi, penerbangan, industri, dan perdagangan. Indeks penurunan emisi karbon menunjukkan dampak dari adanya kebijakan lockdown yang diterapkan di beberapa negara, sehingga dapat dibuat prediksi untuk perubahan emisi karbon harian. Pengurangan emisi karbon terutama didorong oleh sedikitnya jumlah warga kota yang mengemudi sehingga menurun sebesar 50% pada akhir April ini. Penurunan aktivitas yang paling signifikan juga terjadi dalam penerbangan yang mengalami penurunan sebesar 75%. Dalam hal ini, perlu dilakukan upaya untuk terus mengurangi emisi karbon sebesar 2,6% sesuai dengan target iklim Perjanjian Paris PBB. Jika membandingkan pandemi dengan krisis global terakhir, masa krisis terparah terjadi pada saat adanya guncangan minyak di tahun 1970-an, ketika penurunan dalam jumlah signifikan yang menyebabkan kenaikan harga gas. Guncangan energi mendorong produsen untuk membuat mobil berukuran lebih kecil dengan memanfaatakan energi tenaga surya dan angin. Selain itu, guncangan ekonomi juga terjadi pada masa Resesi di tahun 2008-2009. Emisi karbon secara global mengalami penurunan sebesar 1,4% pada tahun 2009. Kemudian pada tahun 2010, emisi karbon kembali naik 5% seolah-olah tidak terjadi perubahan. Akhir tahun 2020, emisi karbon diprediksikan akan menurun antara 4,4%-8%. Penurunan ini merupakan penurunan paling signifikan yang terjadi dalam lebih dari satu dekade. Namun demikian, hal ini merupakan hasil dari perubahan yang dipaksakan, bukan berasal dari restrukturisasi ekonomi dan energi global. Menurut proyeksi United Nations Environment, untuk menjaga suhu global agar tidak naik lebih dari 1,5 derajat Celcius, maka perlu dilakukan dengan mengurangi emisi karbon sebesar 7,6% setiap tahunnya dan dimulai dari saat ini hingga 2030. Suhu panas harus tetap berada di bawah 2 derajat Celcius yang bertujuan untuk menghindari dampak negatif dari perubahan iklim. Kebijakan lockdown telah menyebabkan perubahan drastis dalam pengurangan emisi karbondioksida. Penurunan emisi karbon sebesar 17% atau 17 juta ton karbondioksida secara global selama puncak lockdown pada awal April 2020 dinilai sebanding dengan jumlah penurunan emisi tahunan yang dibutuhkan dari tahun ke tahun selama beberapa dekade untuk mencapai target iklim Perjanjian Paris PBB. Namun demikian, penurunan emisi secara ekstrem diperkirakan bersifat sementara, karena tidak disertai dengan perubahan struktural dalam sistem ekonomi, sistem transportasi, dan sistem energi. Covid-19 telah membuat warga kota beradaptasi dan membangun standar kehidupan normal baru. Belum dapat diketahui secara pasti bagaimana kebiasaan baru masyarakat akan berubah setelah adanya virus ini. Namun demikian, periode ini dapat menjadi kesempatan untuk mitigasi perubahan iklim yang dimulai dari pola aktivitas masyarakat bahkan dari level individu. Pada tataran masyarakat perkotaan, sektor transportasi diperkirakan telah memberi dampak yang signifikan terhadap perubahan iklim. Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan sektor transportasi, masyarakat sejenak menghindari penggunaan transportasi publik, dan lebih memilih untuk bersepeda atau berjalan kaki. Secara bersamaan, pengembangan teknologi transportasi yang ramah lingkungan dapat menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat sembari kota membangun sistem mitigasi secara berkelanjutan dari sektor-sektor lainnya. Disadur dari Scottie Andrew dalam edition.cnn.com pada 19 Mei 2020 #iklim #lingkungan #pandemi #covid-19

Kolaborasi Besar Dukung Megaproyek Bendungan Diamer-Bhasha

Pembangunan infrastruktur diyakini akan memberikan banyak manfaat. Pembangunan bendungan awalnya dilakukan untuk menunjang irigasi dan penyediaan air di kawasan perkotaan. Seiring perkembangannya, pembangunan bendungan juga dipercaya mampu meningkatkan navigasi, menghasilkan tenaga hidroelektrik, mencegah terjadinya banjir, menjadi filter bagi limbah pabrik, hingga menjadi tempat rekreasi. Berbagai fungsi yang dijalankan bendungan telah menjadi daya tarik. Hingga kini pembangunannya semakin diminati berbagai negara, salah satunya Pakistan. Megaproyek pembangunan bendungan akan segera terlaksana di Pakistan. The Water and Power Development Authority (WAPDA) telah memberikan kontrak untuk pembangunan bendungan Diamer-Bhasha kepada perusahaan gabungan antara Power China dan Frontier Works Organization (FWO). Kepala Eksekutif Bendungan Diamer-Bhasha, Amir Bashir Chaudhry dan perwakilan resmi Yang Jiandu telah menandatangani perjanjian atas nama WAPDA dan berkomitmen untuk menyelesaikan megaproyek tersebut pada tahun 2028. Total biaya yang dibutuhkan untuk megaproyek Bendungan Diamer-Bhasha diperkirakan mencapai Rs 1,406.5 bn atau sekitar Rp 128.6T. Kontrak layanan konsultasi telah diberikan kepada Kelompok Konsultan Diamer-Bhasa (DBCG) senilai Rs 27.18 bn atau setara Rp 2.5T untuk desain konstruksi, pengawasan konstruksi, dan administrasi kontrak proyek. Selanjutnya, kontrak yang telah ditandatangani WAPDA bernilai Rs 442 bn atau sekitar Rp 86T yang dialokasikan untuk pembangunan bendungan utama, sistem pengalihan, jembatan akses, dan pembangkit litsrik tenaga air sebesar 21 MW yang akan dibangun di Kota Tangir, Pakistan. Pembangunan bendungan utama ditargetkan selesai dalam waktu satu tahun. Proses pembangunan akan dilaksanakan secara kolaboratif. Kerjasama perusahaan-perusahaan terdiri dari 12 perusahaan baik konsultan nasional dan perusahaan konsultan asing. Mereka adalah NESPAK (Pakistan), Insinyur Konsultan Asing (Pakistan), Mott MacDonald Pakistan (Pakistan), Poyry (Swiss), MWH Internasional Stantec (AS), Teknik Dolsar (Turki), Mott McDonald International (Inggris), Perusahaan Investigasi, Desain, dan Penelitian Sumber Daya Air Beifang China (China), Mirza Associates Engineering Services (Pakistan), Grup Layanan Mega Proyek Al-Kasib (Pakistan), Konsultan Manajemen Pembangunan (Pakistan), dan MWH (Pakistan), dengan NESPAK sebagai perusahaan utama. Bendungan Diamer-Bhasha dibangun untuk mengatasi peningkatan kebutuhan air dan listrik di Negara Pakistan. Bendungan tersebut diperkirakan dapat menampung sebanyak 8,1 juta kubik air dan dapat menghasilkan listrik sebesar 4.500 MW. Bendungan tersebut juga diperkirakan dapat menyediakan jaringan listrik nasional senilai 18 miliar unit setiap tahun. Ketua WAPDA Letjen Muzammil Hussain (Retd) menyatakan bahwa bendungan tersebut akan berperan penting dalam pembangunan ekonomi dan meningkatkan status sosial negara. Proses pembangunan infrastruktur – terutama megaproyek – hampir pasti tak hanya melibatkan satu pihak. Kerjasama antara pemerintah dengan pihak investor atau swasta yang dikenal dengan Public-Private Partnership (PPP) dipercaya mampu mendukung pelaksanaan pembangunan secara efektif dan efisien. Selain memberikan manfaat pada proses pembangunan, proses kerjasama diharapkan mampu menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi pihak swasta kepada pemerintah, terdapat pembagian risiko, tingginya ketepatan waktu dalam project delivery, serta potensi investasi di masa mendatang. Keberhasilan pembangunan infrastruktur dapat menjadi pintu masuk bagi investasi bagi pihak swasta lainnya. Disadur dari Web Desk dalam Bloomberg.com pada 13 Mei 2020 #Infrastruktur #bendungan #air #PPP

Keruntuhan Harga Minyak dapat Memicu Pengembangan Energi Panas Bumi

Perubahan operasi di layanan ladang minyak yang berubah secara drastis dapat memberikan peluang untuk mendorong pengembangan upstream panas bumi. Pandemic Covid-19 yang terjadi di awal tahun 2020 datang sebagai ‘game changer’ yang luar biasa kepada sektor minyak dan gas. Pandemic ini mendorong perubahan konsumsi bahan bakar minyak secara drastis dalam waktu singkat, terutama dengan pemberlakuan pembatasan aktivitas masyarakat secara luas di berbagai negara. Geothermal merupakan sumber energi terbesar di Amerika yang belum termanfaatkan dengan optimal. Menurut data US Energy Information Administration (EIA), sumber daya panas bumi di Amerika Serikat sangat besar, tetapi energi panas bumi hanya menyumbang 0,4 persen dari total pembangkit listrik skala utilitas di Amerika Serikat pada 2019. Secara global, Amerika memimpin dalam pembangkit listrik panas bumi, tetapi dalam di Amerika sendiri, panas bumi merupakan bagian yang dapat diabaikan dari total pembangkit listrik. Persentase tersebut dapat berubah apabila biaya eksplorasi menurun secara signifikan dan teknologi terus meningkat. Skenario tersebut memungkinkan energi panas bumi bertumbuh 26 kali lipat dan menghasilkan 8,5 persen bauran energi listrik di Amerika Serikat. Ini berarti bahwa panas bumi dapat menyumbang 3,7 persen dari total kapasitas terpasang di Amerika pada tahun 2050. Jumlah tersebut diyakini lebih besar dibanding energi yang dihasilkan dari angin dan matahari. Jatuhnya harga minyak telah merusak industri minyak dan dapat melemahkan layanan penyedia minyak. Perusahaan eksplorasi dan produksi Amerika Serikat mengalami kemacetan dan mengumumkan pengurangan 20-30 persen dalam pengeluaran modal. “Selama penurunan terakhir, perhitungan pemasok Amerika Serikat menurun dengan cepat menjadi di bawah 400. Hal ini akan berlangsung lebih dalam. Akibatnya biaya layanan ladang minyak kemungkinan akan menurun 20-40 persen atau lebih,” papar Tim Latimer, co-founder dan operator Fervo Energy. Menurut DOE dalam analisis GeoVision menyatakan bahwa penurunan biaya bisa menjadi insentif utama untuk pengembangan panas bumi, di samping dengan mengoptimalkan jadwal perizinan. Tim Latimer, co-founder dan operator Fervo Energy mengatakan bahwa setelah harga minyak jatuh, pemain industri minyak mulai mengumumkan pengurangan biaya dan belanja modal secara massal. Namun demikian, rantai pasokan panas bumi yang umumnya berjalan tumpang tindih dengan minyak dan gas terutama dalam hal pengeboran sumur ke daerah panas untuk menghasilkan uap dapat memberi peluang perusahaan jasa di bidang pengeboran minyak dan gas untuk pengembangan panas bumi. Latimer melanjutkan bahwa penurunan biaya layanan lapangan minyak saja dapat menyebabkan biaya pengeboran untuk panas bumi lebih rendah sebesar 20 persen atau lebih. “Biaya pengeboran yang lebih rendah untuk panas bumi dikombinasikan dengan suka bunga yang lebih rendah dan kebangkitan retroaktif serta perpanjangan Kredit Pajak Produksi penuh untuk fasilitas panas bumi dari Desember 2019 dapat menyebabkan penurunan 20-30 persen dalam panas bumi dari 65-75/MWh dollar pada awal tahun ini,” papar Latimer. Energi panas bumi tidak hanya dapat memperoleh manfaat dari biaya pengeboran dan pengembangan yang lebih rendah, tetapi juga dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya minat dari sektor minyak dan gas dalam pengembangan panas bumi. “Minyak dan gas bumi memiliki dana dan kemampuan serta cara cepat dalam memajukan teknologi dan penyebaran panas bumi,” papar Kate Young, Manager Program Panas Bumi di Laboratorium Energi Terbarukan Nasional mengatakan kepada Grist pekan lalu. Penurunan harga minyak saat ini memungkinkan terjadinya penurunan jumlah ladang minyak hingga mencapai jumlah yang mirip dengan tahun 200an. Namun demikian, seorang ahli panas bumi mengungkapkan bahwa untuk mencapai energi bersih 100 persen akan lebih dimungkinkan dengan cara yang juga membuat ladang minyak kembali aktif. Pengembangan panas bumi secara intensif pada lebih dari 100 rig dapat mengaktifkan kembali sepertiga ladang minyak yang menghasilkan 24/7 energi yang lebih bersih dibanding sebelumnya. Harga minyak turun pada titik terendah secara signifikan sepanjang sejarah, membuka kesempatan dalam pengembangan panas bumi dari energi terbarukan. Perubahan operasi di layanan ladang minyak yang berubah secara drastis dapat memberikan peluang untuk mendorong pengembangan upstream panas bumi. Diharapkan, dengan tersedianya sisi supply dari aktivitas hulu untuk pengembangan panas bumi, dapat memberikan sedikit ruang dalam mendukung terciptanya energi bersih dari pemanfaatan panas bumi secara tidak langsung. Disadur dari Tsvetana Paraskova dalam oilprice.com 13 April 2020

COVID-19: 'The Real Game Changer' - Pendorong Nyata Menuju Energi Bersih

Disrupsi akibat pandemi Covid-19 terhadap sektor energi tak lantas menggeser prioritas dunia dalam pengembangan energi terbarukan sebagai langkah mitigasi perubahan iklim. Perubahan pola dan kuantitas konsumsi listrik mendorong pola baru pembangkitan energi. Hampir tiga perempat kapasitas pembangkit listrik yang dibangun pada tahun 2019 menggunakan energi terbarukan dan telah memecahkan rekor selama sepanjang sejarah. Data terbaru yang berasal dari Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) menunjukkan bahwa matahari, angin, dan teknologi hijau lainnya kini telah mampu menyediakan lebih dari sepertiga kebutuhan energi di dunia dan telah mengalahkan rekor lainnya. Penggunaan energi pembangkit listrik berbahan bakar fosil telah menurun di Eropa dan Amerika Serikat. Hal tersebut ditandai dengan lebih banyaknya penonaktifan dibanding pembangunan pembangkit listrik tenaga fosil pada tahun 2019. Namun sebaliknya, jumlah pembangkit energi batu bara dan gas semakin meningkat di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Seperti halnya Timur Tengah, yang memiliki setengah dari cadangan minyak dunia, proporsi pembangkit listrik dari energi terbarukan hanya sebesar 26 persen. Kontribusi energi terbarukan dalam kapasitas terpasang pada tahun 2019 hampir mencapai 75%. Data IRENA menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas energi terbarukan sedikit melambat pada tahun 2019 dari 179GW menjadi 176GW, namun daya bahan bakar fosil juga ikut menurun. Total kapasitas terpasang energi terbarukan hingga saat ini tumbuh sebesar 7,6% di seluruh dunia. Inggris menjadi contoh sebagai negara yang terus mengalami peningkatan untuk kapasitas terpasang dari energi terbarukan. Tenaga surya menyumbang 55% dari kapasitas terpasang yang tersebar di negara-negara Asia, seperti Cina, India, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam. Peningkatan kapasitas terpasang tenaga surya juga mulai terlihat di Amerika Serikat, Australia, Spanyol, Jerman, dan Ukraina. Tenaga angin berhasil mencapai 34 persen dari total bauran energi dan hampir setengahnya berada di China. Penambahan signifikan terjadi di Amerika Serikat. Kapasitas terpasang tenaga angin secara global tetap berada di posisi terdepan mengalahkan tenaga surya, dengan 95 persennya adalah tenaga angin darat. Energi terbarukan lainnya seperti tenaga air, bio energi, panas bumi, dan tenaga laut diperkirakan tumbuh sedikit demi sedikit setiap tahun. Meskipun pertumbuhannya lebih kecil dibanding tenaga surya dan angin, energi panas bumi dimanfaatkan untuk memproduksi batuan panas yang dihasilkan dari dalam perut bumi. Turki, Indonesia, dan Kenya menjadi yang teratas untuk energi panas bumi. Berdasarkan data yang didapat dari IRENA, dunia telah menginvestasikan sekitar $3tn untuk keperluan energi terbarukan dalam beberapa dekade terakhir. Namun demikian, investasi tahunan harus mampu berlipat ganda pada tahun 2030 untuk mengatasi masalah perubahan iklim secara signifikan. “Meskipun tren tersebut menunjukkan hal positif, kita membutuhkan lebih banyak kapasitas energi terbarukan secara global secara berkelanjutan dan berpedoman pada langkah mitigasi perubahan iklim. Pada saat yang penuh tantangan seperti saat ini, kita diingatkan akan pentingnya membangun ketahanan dalam sistem perekonomian,” menurut Francesco La Camera, Direktur Jenderal IRENA. Wabah Covid-19 secara nyata telah berimplikasi terhadap sektor energi. Pasar minyak global mengalami kekacauan dengan jatuhnya permintaan pasar selama berlakunya sistem lockdown. Di sisi lain, perang harga ikut menguat diantara Arab Saudi, Rusia, dan Amerika Serikat. “Dalam menanggapi krisis saat ini, pemerintah mungkin tergoda untuk fokus pada solusi jangka pendek. Perbedaan antara tantangan jangka pendek, menengah, dan panjang mungkin membingungkan. Pandemi menunjukkan bahwa suatu penundaan dapat membawa konsekuensi ekonomi yang signifikan.” Pengeluaran terbesar yang direncanakan oleh pemerintah dalam menangani pandemi coronavirus tetap harus mendukung inisiatif hijau dibanding energi fosil. La Camera mengatakan “energi terbarukan merupakan sumber daya dengan pembiayaan yang efektif dan dapat memisahkan pasar energi serta konsumen dari berbagai tantangan perubahan di masa depan.” Hal ini menjadi catatan bahwa disrupsi akibat pandemi Covid-19 terhadap sektor energi tak lantas menggeser prioritas dunia dalam pengembangan energi terbarukan sebagai langkah mitigasi perubahan iklim. Perubahan pola dan kuantitas konsumsi listrik mendorong pola baru pembangkitan energi. Disadur dari Damian Carrington dalam theguardian.com pada 6 April 2020

Kesiapsiagaan Ibu Kota dalam Menghadapi Covid-19

Wabah virus corona terus menghantui sejumlah negara di dunia mengharuskan adanya pemberlakukan kegiatan work form home. Wabah virus corona terus menghantui sejumlah negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Indonesia awal Maret 2020 akhirnya sudah mengonfirmasi kasus pertamanya pada awal bulan Maret 2020. Menanggapi hal tersebut, pemerintah telah menetapkan status darurat dan menghimbau agar kegiatan perkantoran dan kegiatan belajar di sekolah ditutup sementara hingga situasi kembali kondusif dengan mulai memberlakukan kegiatan work from home[1]. Dalam mengupayakan penekanan penyebaran virus corona, selanjutnya, pemerintah mengambil tindakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilaksanakan sepanjang masa inkubasi dan dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang apabila masih terdapat penyebaran lanjutan. Sebagai tindak lanjut, beberapa pemerintah daerah mengajukan izin pemberlakuan PSBB di daerah masing-masing demi memotong rantai penyebaran virus. Selama pemberlakuan PSBB, setiap warga wajib menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan menggunakan masker di luar rumah. Penerapan PSBB mengharuskan pembatasan beberapa aktivitas seperti bekerja, sekolah, praktek keagamaan. Pengurangan dan pelarangan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, pembatasan moda transportasi, serta pembatasan kegiatan diharapkan dapat menekan laju penularan dan penderita. Pembatasan dikecualikan bagi instansi dan kegiatan strategis terkait pangan, energi, keuangan dan perbankan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri strategis, dan pelayanan dasar publik yang ditetapkan sebagai objek vital nasional dan objek tertentu. Sebagai epicentrum dari pandemic corona mengharuskan Pemerintah DKI Jakarta melaksanakan PSBB. Pelaksanaannya ini diharapkan dapat menekan laju penyebaran virus corona terutama dengan membatasi aktivitas perjalanan masyarakat. Pelaksanaan PSBB dimulai pada tanggal 10 April 2020 hingga 23 April 2020. Namun demikian. Pemberlakukan PSBB belum sepenuhnya mampu menekan laju penambahan kasus. Pada tanggal 1 Mei tercatat 145 kasus per hari dan terus menurun hingga 55 kasus per hari pada tanggal 4 Mei 2020, namun demikian terjadi lonjakan pada tanggal 5 Mei mencapai 169 kasus per hari. Catatan ini dapat dimaknai bahwa penyebaran virus SARS-CoV-2 di Ibu kota belum sepenuhnya selesai hingga akhirnya PSBB Jakarta diperpanjang selama 28 hari hingga 22 Mei 2020. Sejalan dengan pemberlakukan PSBB yang secara umum berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, pemerintah memberikan bantuan sosial bagi penduduk dan pelaku usaha yang rentan selama PSBB. Bantuan yang diberikan kepada masyarakat berupa bahan pokok dan atau bantuan langsung tunai. Tercatat sebanyak 3,7 juta warga yang membutuhkan rentan dan membutuhkan bantuan dan secara bertahap, sebanyak 1,25 juta kepala keluarga (KK) di Jakarta telah mendapatkan bantuan sembako. Bantuan juga diberikan kepada para pelaku usaha terdampak berupa insentif dalam bentuk pengurangan pajak dan retribusi daerah, bantuan sosial kepada para karyawan, serta bantuan lainnya sesuai dengan ketentuan undang-undang. Sebagai kota megapolitan dengan aktivitas masyarakat yang intensif dan mencakup berbagai sektor dan lapisan pelaku, Jakarta harus bertindak cepat dan tanggap dalam menghadapi pandemik corona. Pemberlakuan PSBB yang didukung dengan media informasi yang memadai dan responsif melalui laman https://corona.jakarta.go.id/id membantu masyarakat untuk memantau perkembangan kasus dan pembagian bantuan sosial daerah secara valid. Melalui laman tersebut pula masyarakat dari berbagai kalangan dapat turut berperan aktif dalam menghadapi pandemi dalam program Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB). Hal ini menunjukkan betapa kemunculan wabah Covid-19 dapat meningkatkan kembali solidaritas antara pemerintah dengan warganya dalam membangun kenyamanan dan keamanan selama masa pandemik ini. Covid-19 saat ini menjadi tantangan bagi Ibukota DKI Jakarta untuk dapat segera selesai dan segera pulih. Upaya kolaboratif dari masyarakat dan pemerintah DKI Jakarta selama masa PSBB merupakan hal mutlak untuk dapat membangun ketahanan kota selama masa pandemik bahkan hingga memulihkan kembali kondisi kota ke situasi normal sebelum adanya pandemik. Kerja sama yang kuat selama pelaksanaan PSBB, yang tidak hanya mengandalkan pemerintah, namun juga partisipasi masyarakat diharapkan menjadi praktik pembelajaran terbaik bagi DKI Jakarta dalam merencanakan dan mewujudkan konsep pembangunan kota yang berketahanan. #Covid19 #workfromhome #Jabodetabek #PSBB #pandemic#2020#

Kota Berketahanan: Respon Kota menghadapi Kejadian Luar Biasa

Kejadian pandemik Covid-19 yang awalnya melanda Kota Wuhan menjadi sebuah mimpi buruk seluruh dunia di tahun 2020. Hingga April 2020 dilaporkan 180 negara berjuang menghadapi virus SARS-CoV-2 dengan total kasus positif 3,435,894 orang dan total kematian mencapai 239,604 orang. Berbagai langkah kebijakan non-populist diambil oleh setiap negara untuk terus menekan laju penambahan kasus dan kematian tersebut, mulai dari social distancing hingga lockdown. Indonesia sempat diperkirakan terbebas dari virus tersebut hingga akhir Februari 2020. Namun, dalam waktu yang tidak relatif lama, pada tanggal 2 Maret 2020 pemerintah mengumumkan Kasus 01 dan Kasus 02 sebagai kasus positif Covid-19 di Indonesia. Menganggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta, menyatakan bahwa Jakarta menjadi salah satu pusat penyebaran virus, dengan penambahan kasus yang sangat signifikan mencapai 208 kasus positif. Tingkat penularan virus ini, atau yang lazim dikenal dengan R0, sangat tinggi. Sampai dengan awal bulan Mei, jumlah kasus positif di Indonesia mencapai 12,071 kasus dengan kematian sebanyak 872 kasus. Angka tersebut memperlihatkan fatality rate (CFR) di Indonesia mencapai 7,5%. Persentase tersebut bahkan melebihi CFR dunia pada level 7,0%. Pandemik Covid-19 telah memaksa semua umat manusia beradaptasi secara cepat dengan kondisi yang dihadapi saat ini. Adanya fenomena dan kenyataan bahwa setiap individu, komunitas/ masyarakat, hingga institusi secara alamiah berusaha untuk bertahan selama peristiwa bencana. Naluri untuk bertahan hidup menjadi motivasi terkuat dalam kondisi ini.    Mereka akan berusaha mengakuisisi pengetahuan dengan cepat untuk pengambilan keputusan yang akurat demi keselamatan, kenyamanan, dan mengembalikan kondisi seperti sebelum terjadinya bencana. Pemerintah Indonesia pun terus berupaya menekan laju pertumbuhan kasus, meski tampak tergagap-gagap menghadapi kejadian yang belum pernah dihadapi negara manapun sebelumnya. Himbauan untuk melakukan social distancing atau yang saat ini dikenal sebagai physical distancing, Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga pelarangan mudik. Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Carut marut data kasus Covid-19 di level pusat dan daerah, ketidaksiapan infrastruktur kesehatan dan tenaga medis, hingga perekonomian yang mulai mengalami kerentanan akibat hantaman virus ini. Lebih dari itu, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan diprediksi menjadi tantangan besar pemberantasan virus yang mungkin memakan waktu cukup lama untuk menjangkau pulau-pulau kecil di ujung Indonesia. Pusat Studi Infrastruktur Indonesia (PSII) melakukan studi di berbagai kota (Jakarta, Tangerang, Depok, Solo, dan Yogyakarta). Studi dilakukan pada responden dengan rentang usia 18 tahun hingga 60 tahun dari beragam sektor pekerjaan. Tujuannya adalah melihat bagaimana individu, komunitas, dan institusi beradaptasi selama terjadinya peristiwa yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahkan oleh dunia dari perspektif keilmuan sosial. Hasil analisis sementara memperlihatkan berbagai upaya pada tataran menunjukkan institusi diambil secara cepat dan singkat dengan mempertimbangkan informasi yang ada dan kemungkinan dampak yang mungkin terjadi. Hal ini sesuai dengan mekanisme pengambilan keputusan pada institusi sesuai Williamson (2000). Pada tataran pemerintahan pusat, langkah cepat diambil seperti mengeluarkan berbagai aturan termasuk larangan bagi masyarakat untuk mengurangi tingkat penularan dari wabah Covid-19, seperti PSBB, larangan mudik terutama menjelang hari raya, hingga melakukan realokasi anggaran secara signifikan. Pemerintah pusat dan daerah pun saling bekerjasama dalam memberikan beragam paket-paket jaring pengaman sosial. Secara nasional, seluruh institusi pendidikan dalam waktu singkat, dipaksa untuk berinovasi melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan mengoptimalkan sistem belajar secara daring yang bekerja sama dengan jaringan media dan aplikasi daring untuk keperluan edukatif. Pada level usaha dan bisnis, berbagai institusi memberlakukan penetapan kebijakan aturan dan mekanisme kerja yang dapat mengkomodasi aktivitas usaha yang aman serta mampu menekan laju penularan. Kebijakan yang secara luas diberlakukan banyak organisasi seperti Work from Home (WFH), pengaturan jadual dengan reorganisasi dengan mekanisme shift waktu bekerja, penerapkan protokol kesehatan sebelum masuk gedung seperti pengecekan suhu, penggunaan masker dan hand sanitizer, peniadaan absen dengan sidik jari untuk mengindari kontak fisik. Selain pengaturan internal, pelaku usaha menerapkan physical distancing dengan para pelanggan untuk mengurangi risiko penularan. Pemberlakuan PSBB memberikan tekanan yang signifikan pada beberapa sektor usaha. Risiko terbesar yang terjadi dan paling menakutkan adalah merumahkan karyawan hingga waktu yang belum bisa ditentukan, bahkan adanya kemungkinan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kondisi luar biasa Covid-19 ditanggapi secara cepat pada tataran komunitas dan lingkungan. Banyak dari masyarakat dengan sigap membuat portal untuk membatasi kegiatan bepergian warganya dan mengurangi kontak yang dapat meningkatkan risiko penularan. Secara sukarela, masyarakat meniadakan kegiatan dan pertemuan pada skala lingkungan. Menariknya, muncul budaya menjaga lingkungan secara mandiri dengan membentuk gugus tugas secara mandiri di tingkat RT sebagaimana arahan dari pemerintah daerah, termasuk dengan praktek ronda bersama yang sudah lama mati suri. Untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi pada skala komunitas, masyarakat melakukan pendataan swadaya bagi warga yang terdampak – baik warga yang positif Covid-19 maupun yang terdampak secara finansial dari kebijakan pemerintah maupun perusahaan. Sosialisasi secara di tingkat masyarakat dilakukan melalui berbagai media, baik secara daring – melalui media sosial termasuk WhatsApp group dan pemasangan banner-banner untuk mengedukasi warga setempat. Kesiapan pada individu dapat terbagi dua kelompok besar, yaitu mereka yang cukup tangguh terutama karena memiliki keamanan dari segi finansial dan mereka yang rentan dalam menghadapi pandemik. Individu yang cukup siap ini mampu mengamankan mengamankan stok kebutuhan pangan untuk jangka waktu tertentu. Kelompok ini mampu menjalankan protokol kesehatan dengan rajin menjaga kebersihan diri, menggunakan masker, sarung tangan, membawa hand sanitizer saat keluar rumah, dan menjaga pola makan sehat, serta menerapkan physical distancing dan membatasi kegiatan di luar rumah; serta menyesuaikan pola asuh dan edukasi kepada anak mengenai kejadian wabah ini. Sebaliknya, masih terdapat lapisan masyarakat rentan dan berjuang keras menghadapi wabah ini. Kebanyakan dari kelompok ini berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah. Tekanan ekonomi dan anggapan bahwa selama belum ada kasus positif ditemukan disekitarnya maka pembatasan sosial pun belum memiliki urgensi yang tinggi melatarbelakangi mereka untuk tetap beraktivitas di luar rumah demi memenuhi kebutuhan makan hari ini. Kelompok individu yang merantau pun berjuang cukup keras, mulai dari pembatalan sejumlah tiket mudik hingga ketahanan menjaga kesehatan mental dalam menghadapi kejadian ini sendirian. Mereka yang tinggal di kos dengan ruang yang relatif sempit harus mampu melawan kebosanan, stress, kesepian, hingga kegelisahan dan kepanikan. Hal tersebut kemudian diatasi dengan melakukan olah raga ringan, memasak, dan beragam hal lain yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Wabah Covid-19, sebagai kejadian luar biasa memberikan banyak pelajaran bagi setiap lapisan masyarakat baik dari segi fisik maupun mental dari tingkat individu, kelompok/komunitas, organisasi dan institusi, termasuk institusi pemerintahan. Pada tingkatan individu, sebagian besar masyarakat meningkatan perhatian akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), keselamatan diri, dan kesehatan mental. Kejadian Covid-19, mendorong peningkatan kepedulian kelompok masyarakat untuk mengayomi satu sama lain melalui upaya skala komunitas dalam menjaga kenyamaan dan keamanan warganya. Pada tataran institusi, pengambilan keputusan secara cepat, pembelajaran singkat secara terbuka, serta pendokumentasian kejadian dan dampak untuk proses evaluasi menjadi kegiatan yang tidak bisa dihindarkan - termasuk bagi entitas bisnis. Ketangguhan yang terbentuk pada semua tingkatan, mulai dari tingkat individu, kelompok/komunitas, hingga institusi menjadi bekal berharga untuk dapat bertahan dan mengembalikan kehidupan sedia kala dengan mengedepankan kenyamanan dari semua elemen dari masing-masing tingkatan, termasuk semua level pemerintahan, dari kota sampai tingkat pusat. #Covid19#pandemic #lockdown #Indonesia #resillient#2020

Transformasi Upaya Penyediaan Hunian di Perkotaan

Desain kota kompak dan penggunaan lahan campuran menjadi solusi untuk pengaturan kota yang lebih efektif untuk menyediakan hunian masa depan. Rumah adalah satu dari tiga kebutuhan esensial manusia untuk dapat berlindung dan bertahan hidup. Bangunan rumah yang mengelompok atau dikenal sebagai perumahan sering dijumpai di perkotaan. Lebih dari itu, Kawasan perumahan kini sering dijadikan tolok ukur gaya hidup, kemampuan finansial seseorang, hingga bentuk keberhasilan dalam bekerja. Sudah menjadi hal wajar bila pada area perkotaan selalu identik dengan kawasan perumahan elite. Meskipun identik dengan para elite, kawasan perumahan pun tak lantas terlepas dari permasalahan bahkan sejak awal pembangunannya. Seperti yang terjadi pada salah satu kawasan permukiman elite di Kota Lafayette, California, Amerika Serikat pada tahun 2012. Saat itu, Kota Lafayette yang dihuni oleh 25,000 berupaya mempertahankan statusnya sebagai kota kecil dan menjaga kotanya agar tidak tumbuh secara menyebar. Pembangunan hunian vertikal pun dipilih untuk mendukung upaya tersebut. Seorang pengembang telah mengusulkan untuk menempatkan 315 apartemen dengan nilai harga properti yang tinggi di sepanjang Deer Hill Road, berdekatan dengan stasiun Bay Area Rapit Transit, dan melihat pemandangan yang menyenangkan. Peraturan zonasi telah memberi izin untuk pembangunan tersebut, namun gejolak terjadi di lingkungan sosial sekitar yang dapat membuat Terraces tidak dapat terbangun. Penduduk setempat bereaksi terhadap proyek pembangunan tersebut dan melakukan aksi setiap hari Senin selama tahun 2012 dan 2013. Hampir semua tantangan terbesar di Amerika, pada tingkat tertentu, merupakan masalah perumahan. Biaya rumah yang terus meningkat menjadi pendorong utama pemisahan, ketimpangan, serta konflik ras dan generasi. Lebih dari itu, terdapat pula tantangan di sektor lingkungan sebagai implikasi dari perubahan lanskap perkotaan dan tidak adanya rencana yang serius untuk menangani perubahan iklim. Ini tampak dari tidak adanya inisiasi pembicaraan tentang bagaimana mengubah lanskap perkotaan sehingga masyarakat dapat tinggal dekat dengan perkantoran. Menurut McKinsey Global Institute, negara perlu menciptakan 3,5 juta rumah pada tahun 2025, lebih dari tiga kali lipat kecepatan saat ini untuk memperbaiki masalah keterjangkauannya. Untuk memikul angka tersebut membutuhkan pembangunan lebih banyak dari biasanya, berupa perumahan bersubsidi, perumahan tingkat pasar, apartemen, kondominium, koorporasi, dan apartemen di wilayah utama kota-kota seperti di Kota Lafayette. Pada awal 1980an, selama krisis perumahan terjadi, California meloloskan sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk merampingkan lahan bagi perumahan, namun hal ini memicu kesenjangan perumahan. Pada akhir Januari, Badan Legislatif menolak S.B. 50, sebuah RUU yang akan mendorong kota untuk menerima banguan berlantai empat hingga lima di daerah yang sarat dengan kemudahan. Upaya pembangunan perumahan terus diperjuangkan. Pada akhir 2018, Minneapolis menjadi kota besar pertama di Amerika yang secara efektif mengakhiri zonasi rumah bagi keluarga tunggal. Oregon mengikuti segera setelah itu. California dan New York telah secara signifikan memperluas perlindungan bagi penyewa. Namun demikian, upaya tersebut terus menghadapi tantangan. Banyak ekonom memberikan kepercayaan pada anggapan bahwa krisis perumahan dapat secara material merusak GDP, dengan memperburuk ketidaksetaraan dan mengurangi peluang, semua kandidat Presiden dari partai Demokrat mengajukan proposal perumahan besar. Apa yang disarankan disini adalah solusi nyata secara humanis. Orang-orang perlu menyadari bahwa tunawisma selalu terkait dengan harga perumahan. Mereka harus menginternalisasi pelajaran dari tunawisma, bahwa bila menginginkan anak-anak mereka memiliki masa depan keuangan yang stabil, maka mereka harus menyediakan ruang bagi masa depan. Pola pembangunan rumah secara menyebar kini perlu dipertimbangkan. Semakin bertambahnya jumlah populasi di suatu kota menjadikan faktor pemicu permukiman terus dibangun untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat kota. Kejadian yang dialami kota-kota di Amerika Serikat memberikan pembelajaran dalam proses perencanaan kota. Penyediaan perumahan secara menyebar dan tidak terkendali kian menurunkan jumlah lahan terbuka. Hal ini juga berimplikasi terhadap beban bagi generasi mendatang, mulai dari meroketnya harga tanah dan properti, serta biaya lingkungan yang harus ditanggung. Desain kota yang kompak dan memiliki fungsi campuran menjadi langkah yang diambil kota-kota besar di Amerika Serikat. Langkah ini tentu dapat direplikasi di berbagai belahan dunia dalam mencari jalan keluar bagi perencanaan perkotaan. Perencanaan yang didasari oleh skenario dengan memperhitungkan kemungkinan yang akan dihadapi di masa mendatang selalu menjadi kunci dalam penyediaan hunian bagi masyarakat kota secara khusus, serta dalam perencanaan perkotaan pada skala yang lebih luas. Disadur dari Conor Dougherty dalam nytimes.com pada 14 Februari 2020 #Housing #Lafayette #mixlanduse #urbanplanning #compactcity#US

Hubungi Kami

Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

Jalan Danau Jempang Blok B3 No. 81

Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

© 2020 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia