Cari
  • PSII Indonesia

Peluang Besar Mitigasi Iklim di Masa Pandemi

Emisi karbondioksida telah mengalami penurunan selama wabah pandemi Covid-19 berlangsung. Studi Internasional tentang Emisi Karbon Global telah menemukan bahwa penggunaan emisi karbon harian mengalami penurunan hingga 17% antara Januari dan awal April ini, dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2019, dan diprediksikan akan terus menurun pada kisaran antara 4,4%-8% hingga akhir tahun ini. Angka ini menandai bahwa telah terjadi penurunan emisi karbon terbesar sepanjang tahun.


Studi emisi karbon telah dilakukan pada sejumlah 69 negara. Terbatasnya data emisi karbon untuk penggunaan waktu secara nyata membuat para peneliti membangun algoritma mereka sendiri. Mereka menciptakan indeks penurunan berdasarkan beratnya kebijakan pandemi. Dimana angka 0 digunakan untuk mewakili tidak ada kebijakan lockdown selama pandemi dan angka 3 mewakili kebijakan lockdown secara maksimal dengan peraturan tetap berada di rumah dan menutup kegiatan perekonomian.


Para peneliti menggunakan metode tersebut dalam memeriksa data harian dari enam sektor ekonomi yang berkontribusi terhadap emisi karbon, termasuk transportasi, penerbangan, industri, dan perdagangan. Indeks penurunan emisi karbon menunjukkan dampak dari adanya kebijakan lockdown yang diterapkan di beberapa negara, sehingga dapat dibuat prediksi untuk perubahan emisi karbon harian. Pengurangan emisi karbon terutama didorong oleh sedikitnya jumlah warga kota yang mengemudi sehingga menurun sebesar 50% pada akhir April ini. Penurunan aktivitas yang paling signifikan juga terjadi dalam penerbangan yang mengalami penurunan sebesar 75%.


Dalam hal ini, perlu dilakukan upaya untuk terus mengurangi emisi karbon sebesar 2,6% sesuai dengan target iklim Perjanjian Paris PBB. Jika membandingkan pandemi dengan krisis global terakhir, masa krisis terparah terjadi pada saat adanya guncangan minyak di tahun 1970-an, ketika penurunan dalam jumlah signifikan yang menyebabkan kenaikan harga gas. Guncangan energi mendorong produsen untuk membuat mobil berukuran lebih kecil dengan memanfaatakan energi tenaga surya dan angin. Selain itu, guncangan ekonomi juga terjadi pada masa Resesi di tahun 2008-2009. Emisi karbon secara global mengalami penurunan sebesar 1,4% pada tahun 2009. Kemudian pada tahun 2010, emisi karbon kembali naik 5% seolah-olah tidak terjadi perubahan.


Akhir tahun 2020, emisi karbon diprediksikan akan menurun antara 4,4%-8%. Penurunan ini merupakan penurunan paling signifikan yang terjadi dalam lebih dari satu dekade. Namun demikian, hal ini merupakan hasil dari perubahan yang dipaksakan, bukan berasal dari restrukturisasi ekonomi dan energi global. Menurut proyeksi United Nations Environment, untuk menjaga suhu global agar tidak naik lebih dari 1,5 derajat Celcius, maka perlu dilakukan dengan mengurangi emisi karbon sebesar 7,6% setiap tahunnya dan dimulai dari saat ini hingga 2030. Suhu panas harus tetap berada di bawah 2 derajat Celcius yang bertujuan untuk menghindari dampak negatif dari perubahan iklim.


Kebijakan lockdown telah menyebabkan perubahan drastis dalam pengurangan emisi karbondioksida. Penurunan emisi karbon sebesar 17% atau 17 juta ton karbondioksida secara global selama puncak lockdown pada awal April 2020 dinilai sebanding dengan jumlah penurunan emisi tahunan yang dibutuhkan dari tahun ke tahun selama beberapa dekade untuk mencapai target iklim Perjanjian Paris PBB. Namun demikian, penurunan emisi secara ekstrem diperkirakan bersifat sementara, karena tidak disertai dengan perubahan struktural dalam sistem ekonomi, sistem transportasi, dan sistem energi.


Covid-19 telah membuat warga kota beradaptasi dan membangun standar kehidupan normal baru. Belum dapat diketahui secara pasti bagaimana kebiasaan baru masyarakat akan berubah setelah adanya virus ini. Namun demikian, periode ini dapat menjadi kesempatan untuk mitigasi perubahan iklim yang dimulai dari pola aktivitas masyarakat bahkan dari level individu.


Pada tataran masyarakat perkotaan, sektor transportasi diperkirakan telah memberi dampak yang signifikan terhadap perubahan iklim. Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan sektor transportasi, masyarakat sejenak menghindari penggunaan transportasi publik, dan lebih memilih untuk bersepeda atau berjalan kaki. Secara bersamaan, pengembangan teknologi transportasi yang ramah lingkungan dapat menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat sembari kota membangun sistem mitigasi secara berkelanjutan dari sektor-sektor lainnya.


Disadur dari Scottie Andrew dalam edition.cnn.com pada 19 Mei 2020


#iklim #lingkungan #pandemi #covid-19

1 tampilan

Hubungi Kami

Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

Jalan Danau Jempang Blok B3 No. 81

Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

© 2020 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia