Cari
  • PSII Indonesia

Kota Berketahanan: Respon Kota menghadapi Kejadian Luar Biasa

Diperbarui: Jun 16

Kejadian pandemik Covid-19 yang awalnya melanda Kota Wuhan menjadi sebuah mimpi buruk seluruh dunia di tahun 2020.

Hingga April 2020 dilaporkan 180 negara berjuang menghadapi virus SARS-CoV-2 dengan total kasus positif 3,435,894 orang dan total kematian mencapai 239,604 orang. Berbagai langkah kebijakan non-populist diambil oleh setiap negara untuk terus menekan laju penambahan kasus dan kematian tersebut, mulai dari social distancing hingga lockdown.


Indonesia sempat diperkirakan terbebas dari virus tersebut hingga akhir Februari 2020. Namun, dalam waktu yang tidak relatif lama, pada tanggal 2 Maret 2020 pemerintah mengumumkan Kasus 01 dan Kasus 02 sebagai kasus positif Covid-19 di Indonesia. Menganggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta, menyatakan bahwa Jakarta menjadi salah satu pusat penyebaran virus, dengan penambahan kasus yang sangat signifikan mencapai 208 kasus positif.


Tingkat penularan virus ini, atau yang lazim dikenal dengan R0, sangat tinggi. Sampai dengan awal bulan Mei, jumlah kasus positif di Indonesia mencapai 12,071 kasus dengan kematian sebanyak 872 kasus. Angka tersebut memperlihatkan fatality rate (CFR) di Indonesia mencapai 7,5%. Persentase tersebut bahkan melebihi CFR dunia pada level 7,0%.


Pandemik Covid-19 telah memaksa semua umat manusia beradaptasi secara cepat dengan kondisi yang dihadapi saat ini. Adanya fenomena dan kenyataan bahwa setiap individu, komunitas/ masyarakat, hingga institusi secara alamiah berusaha untuk bertahan selama peristiwa bencana. Naluri untuk bertahan hidup menjadi motivasi terkuat dalam kondisi ini.    Mereka akan berusaha mengakuisisi pengetahuan dengan cepat untuk pengambilan keputusan yang akurat demi keselamatan, kenyamanan, dan mengembalikan kondisi seperti sebelum terjadinya bencana.


Pemerintah Indonesia pun terus berupaya menekan laju pertumbuhan kasus, meski tampak tergagap-gagap menghadapi kejadian yang belum pernah dihadapi negara manapun sebelumnya. Himbauan untuk melakukan social distancing atau yang saat ini dikenal sebagai physical distancing, Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga pelarangan mudik.


Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Carut marut data kasus Covid-19 di level pusat dan daerah, ketidaksiapan infrastruktur kesehatan dan tenaga medis, hingga perekonomian yang mulai mengalami kerentanan akibat hantaman virus ini. Lebih dari itu, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan diprediksi menjadi tantangan besar pemberantasan virus yang mungkin memakan waktu cukup lama untuk menjangkau pulau-pulau kecil di ujung Indonesia.


Pusat Studi Infrastruktur Indonesia (PSII) melakukan studi di berbagai kota (Jakarta, Tangerang, Depok, Solo, dan Yogyakarta). Studi dilakukan pada responden dengan rentang usia 18 tahun hingga 60 tahun dari beragam sektor pekerjaan. Tujuannya adalah melihat bagaimana individu, komunitas, dan institusi beradaptasi selama terjadinya peristiwa yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahkan oleh dunia dari perspektif keilmuan sosial.

Hasil analisis sementara memperlihatkan berbagai upaya pada tataran menunjukkan institusi diambil secara cepat dan singkat dengan mempertimbangkan informasi yang ada dan kemungkinan dampak yang mungkin terjadi. Hal ini sesuai dengan mekanisme pengambilan keputusan pada institusi sesuai Williamson (2000). Pada tataran pemerintahan pusat, langkah cepat diambil seperti mengeluarkan berbagai aturan termasuk larangan bagi masyarakat untuk mengurangi tingkat penularan dari wabah Covid-19, seperti PSBB, larangan mudik terutama menjelang hari raya, hingga melakukan realokasi anggaran secara signifikan.


Pemerintah pusat dan daerah pun saling bekerjasama dalam memberikan beragam paket-paket jaring pengaman sosial. Secara nasional, seluruh institusi pendidikan dalam waktu singkat, dipaksa untuk berinovasi melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan mengoptimalkan sistem belajar secara daring yang bekerja sama dengan jaringan media dan aplikasi daring untuk keperluan edukatif.


Pada level usaha dan bisnis, berbagai institusi memberlakukan penetapan kebijakan aturan dan mekanisme kerja yang dapat mengkomodasi aktivitas usaha yang aman serta mampu menekan laju penularan. Kebijakan yang secara luas diberlakukan banyak organisasi seperti Work from Home (WFH), pengaturan jadual dengan reorganisasi dengan mekanisme shift waktu bekerja, penerapkan protokol kesehatan sebelum masuk gedung seperti pengecekan suhu, penggunaan masker dan hand sanitizer, peniadaan absen dengan sidik jari untuk mengindari kontak fisik. Selain pengaturan internal, pelaku usaha menerapkan physical distancing dengan para pelanggan untuk mengurangi risiko penularan.


Pemberlakuan PSBB memberikan tekanan yang signifikan pada beberapa sektor usaha. Risiko terbesar yang terjadi dan paling menakutkan adalah merumahkan karyawan hingga waktu yang belum bisa ditentukan, bahkan adanya kemungkinan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).


Kondisi luar biasa Covid-19 ditanggapi secara cepat pada tataran komunitas dan lingkungan. Banyak dari masyarakat dengan sigap membuat portal untuk membatasi kegiatan bepergian warganya dan mengurangi kontak yang dapat meningkatkan risiko penularan. Secara sukarela, masyarakat meniadakan kegiatan dan pertemuan pada skala lingkungan.

Menariknya, muncul budaya menjaga lingkungan secara mandiri dengan membentuk gugus tugas secara mandiri di tingkat RT sebagaimana arahan dari pemerintah daerah, termasuk dengan praktek ronda bersama yang sudah lama mati suri.

Untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi pada skala komunitas, masyarakat melakukan pendataan swadaya bagi warga yang terdampak – baik warga yang positif Covid-19 maupun yang terdampak secara finansial dari kebijakan pemerintah maupun perusahaan. Sosialisasi secara di tingkat masyarakat dilakukan melalui berbagai media, baik secara daring – melalui media sosial termasuk WhatsApp group dan pemasangan banner-banner untuk mengedukasi warga setempat.


Kesiapan pada individu dapat terbagi dua kelompok besar, yaitu mereka yang cukup tangguh terutama karena memiliki keamanan dari segi finansial dan mereka yang rentan dalam menghadapi pandemik. Individu yang cukup siap ini mampu mengamankan mengamankan stok kebutuhan pangan untuk jangka waktu tertentu. Kelompok ini mampu menjalankan protokol kesehatan dengan rajin menjaga kebersihan diri, menggunakan masker, sarung tangan, membawa hand sanitizer saat keluar rumah, dan menjaga pola makan sehat, serta menerapkan physical distancing dan membatasi kegiatan di luar rumah; serta menyesuaikan pola asuh dan edukasi kepada anak mengenai kejadian wabah ini.


Sebaliknya, masih terdapat lapisan masyarakat rentan dan berjuang keras menghadapi wabah ini. Kebanyakan dari kelompok ini berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah. Tekanan ekonomi dan anggapan bahwa selama belum ada kasus positif ditemukan disekitarnya maka pembatasan sosial pun belum memiliki urgensi yang tinggi melatarbelakangi mereka untuk tetap beraktivitas di luar rumah demi memenuhi kebutuhan makan hari ini. Kelompok individu yang merantau pun berjuang cukup keras, mulai dari pembatalan sejumlah tiket mudik hingga ketahanan menjaga kesehatan mental dalam menghadapi kejadian ini sendirian. Mereka yang tinggal di kos dengan ruang yang relatif sempit harus mampu melawan kebosanan, stress, kesepian, hingga kegelisahan dan kepanikan. Hal tersebut kemudian diatasi dengan melakukan olah raga ringan, memasak, dan beragam hal lain yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.


Wabah Covid-19, sebagai kejadian luar biasa memberikan banyak pelajaran bagi setiap lapisan masyarakat baik dari segi fisik maupun mental dari tingkat individu, kelompok/komunitas, organisasi dan institusi, termasuk institusi pemerintahan. Pada tingkatan individu, sebagian besar masyarakat meningkatan perhatian akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), keselamatan diri, dan kesehatan mental. Kejadian Covid-19, mendorong peningkatan kepedulian kelompok masyarakat untuk mengayomi satu sama lain melalui upaya skala komunitas dalam menjaga kenyamaan dan keamanan warganya.


Pada tataran institusi, pengambilan keputusan secara cepat, pembelajaran singkat secara terbuka, serta pendokumentasian kejadian dan dampak untuk proses evaluasi menjadi kegiatan yang tidak bisa dihindarkan - termasuk bagi entitas bisnis. Ketangguhan yang terbentuk pada semua tingkatan, mulai dari tingkat individu, kelompok/komunitas, hingga institusi menjadi bekal berharga untuk dapat bertahan dan mengembalikan kehidupan sedia kala dengan mengedepankan kenyamanan dari semua elemen dari masing-masing tingkatan, termasuk semua level pemerintahan, dari kota sampai tingkat pusat.


#Covid19#pandemic #lockdown #Indonesia #resillient#2020

17 tampilan

Hubungi Kami

Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

Jalan Danau Jempang Blok B3 No. 81

Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

© 2020 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia