Cari
  • PSII Indonesia

Ragam Upaya Kota Memerangi Sampah Plastik



Perubahan pola penggunaan plastik sekali pakai menjadi kunci untuk menekan produksi limbah plastik.

Kawasan perkotaan tak pernah terlepas dari masalah persampahan. Bertambahnya jumlah penduduk perkotaan berimplikasi pada peningkatan jumlah sampah rumah tangga, terutama sampah plastik. Pengolahan sampah plastik yang sulit terurai menjadi tantangan bagi perkotaan untuk terus berinovasi demi mencapai kelestarian lingkungan di kawasan perkotaan.


Presiden Joko Widodo melihat sampah adalah masalah yang harus ditangani dengan serius, karena  dapat menjadi beban lingkungan generasi yang akan datang. Seluruh lapisan masyarakat diharapkan untuk bersama-sama peduli dan mau mengurangi sampah. Masalah sampah menjadi urusan bersama, sehingga publik diajak untuk bergerak bersama mengurangi produksi sampah dan mengelola sampah harian dengan lebih baik.


Berbagai upaya pengolahan sampah telah lama dilakukan oleh Indonesia. Beberapa program pengolahan sampah yang kita kenal meliputi program TPS3R sebagai fasilitas tempat melakukan Reuse, Reduce, dan Recycle (mengurangi – menggunakan – daur ulang), sanitasi total berbasis masyarakat, instalasi pengolahan air limbah, sistem pengelolaan sampah refuse derived fuel, hingga mengolah sampah menjadi sumber tenaga pembangkit listrik.


Beberapa kota telah berupaya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Bali, Bandung, dan Manado. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan 12 kota mulai menerapkan pengolahan sampah menjadi listrik atau "waste to energy". Kota Jakarta memiliki satu pembangkit tenaga listrik tenaga sampah yang dapat menampung 1.500 ton sampah per hari. Kapasitas ini masih lebih rendah dibandingkan sampah yang dihasilkan warga Ibu Kota yang mencapai 8 ribu ton per hari. Dalam waktu dekat Jakarta ditargetkan memiliki tiga sampai empat pembangkit lagi.


Ke depan, pemerintah juga berencana membangun fasilitas pembakar sampah (incenerator) yang rendah emisi CO2 (karbon dioksida). Insenerasi dapat mengubah sampah menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Gas yang dihasilkan harus dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer, sedangkan panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan juga sebagai energi pembangkit listrik. Rencananya, alat ini akan diletakan jauh dari permukiman penduduk dan dipasang di daerah yang menghasilkan sampah di bawah 150 ton per hari.


Sampah plastik yang dibuang ke laut dapat menjadi mikroplastik dan dimakan ikan. Kemudian ikan yang mengandung mikroplastik ini dimakan manusia. Masalahnya, mikroplastik ini dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan manusia atau yang dikenal dengan stunting. Rantai permasalahan ini akan terus berlanjut apabila nihilnya upaya yang masif dalam mengelola sampah plastik.


Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri dalam mengurai masalah persampahan. Dukungan dari masyarakat, termasuk sektor usaha dan bisnis menjadi sangat esensial. Pemerintah terus mendorong masyarakat untuk menggunakan kantung belanja pribadi dan meninggalkan kebiasaan lama dalam menggunakan plastik sekali pakai. Sektor bisnis seperti kuliner juga kian giat meminimalisir penggunaan peralatan makan dan sedotan plastik. Disamping upaya kota untuk mengolah limbah plastik, perubahan pola penggunaan plastik sekali pakai diyakini menjadi langkah sederhana yang dapat menekan laju pertumbuhan sampah plastik di kawasan perkotaan.


Disadur dari Safrezi Fitra dalam katadata.co.id pada 28 April 2019


0 tampilan

Hubungi Kami

Pusat Studi Infrastruktur Indonesia

Jalan Danau Jempang Blok B3 No. 81

Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

© 2020 by Pusat Studi Infrastruktur Indonesia